Yogyakarta

Skenario Bahaya Jika Terjadi Bencana Merapi

Gunung Merapi saat ini masih berstatus waspada sejak 21 Mei 2018. Status tersebut bisa meningkat menjadi siaga hingga awas jika aktivitas Gunung Merap

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Ari Nugroho
Istimewa / tangkapan layar
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Dr Hanik Humaida dalam Webinar Peringatan 100 Tahun Pemantauan Gunung Api di Indonesia dengan tema “Erupsi Besar Merapi Tahun 2010: Sebuah Refleksi di Masa Pandemi”, Jumat (11/9/2020). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Gunung Merapi saat ini masih berstatus waspada sejak 21 Mei 2018.

Status tersebut bisa meningkat menjadi siaga hingga awas jika aktivitas Gunung Merapi meningkat secara signifikan.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) selalu melakukan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Merapi sebagai bentuk kesiapsiagaan jika terjadi bencana.

BPPTKG pun telah menyusun skenario bahaya yang ditimbulkan Merapi dan rencana kontingensi.  

Kepala BPPTKG, Dr Hanik Humaida mengatakan skenario bahaya Gunung Merapi dapat terjadi jika volume kubah lava Merapi mencapai titik maksimalnya.

BPPTKG Jelaskan Aktivitas Gunung Merapi Terkini dan Prediksi Erupsi Berikutnya

Saat ini, kubah lava muncul di pusat kawah cenderung ke arah barat-barat laut, sampai di bagian tengah kubah 2010.

Kubah lava tersebut dapat terbangun dengan volume maksimal 10 juta m3.

“Pertumbuhan kubah yang cukup besar mengakibatkan ketidakstabilan/runtuhnya dinding kawah sektor barat dan sektor selatan atau sekitar bukaan kawah saat ini,” ujar Hanik dalam Webinar Peringatan 100 Tahun Pemantauan Gunung Api di Indonesia dengan tema “Erupsi Besar Merapi Tahun 2010: Sebuah Refleksi di Masa Pandemi”, Jumat (11/9/2020).

Ia melanjutkan, ketika kubah lava tidak stabil maka sebagiannya akan runtuh ke arah bukaan kawah saat ini dan juga ke arah bukaan akibat runtuhnya dinding kawah tersebut.

UPDATE Aktivitas Gunung Merapi Pekan Ini, Terjadi Pemendekan Jarak Tunjam Sekitar 2 Sentimeter

Skenario tersebut mengacu kepada kebanyakan erupsi tipe Merapi yang meruntuhkan lava lama, seperti erupsi 1998 dan 2006.

Adapun jenis bahaya yang mungkin terjadi di antaranya awan panas maksimal 9 km di sektor selatan dan 8 km di sektor barat, lontaran material vulkanik dalam radius 2 km, hujan abu di sekitar Merapi, dan lahar di alur sungai berhulu Merapi.

Hanik menjelaskan, sebagai prakondisi peringatan dini, status siaga ditetapkan ketika teramati kemunculan kubah lava yang kemudian mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Sementara, status awas ditetapkan ketika awan panas akibat longsornya sebagian material kubah lava terjadi secara intensif dan jarak jangkau awan panas mencapai lebih dari 3 km dari puncak.

Selain itu, data pemantauan dapat berupa gempa VT 0-1 kali/hari, MP 50-150 kali/hari, RF 50-200 kali/hari, dan laju deformasi EDM 0-1 cm/hari.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved