Yogyakarta
BPPTKG Jelaskan Aktivitas Gunung Merapi Terkini dan Prediksi Erupsi Berikutnya
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Dr Hanik Humaida mengatakan kondisi Merapi sampai saat ini masih te
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Sejak ditetapkan berstatus waspada pada 21 Mei 2018 hingga saat ini, Gunung Merapi masih menunjukkan terjadinya aktivitas di atas normal.
Saat ini, aktivitas kegempaan Gunung Merapi masih terjadi setiap hari, sementara erupsi terakhir Merapi terjadi pada 21 Juni 2020.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Dr Hanik Humaida mengatakan kondisi Merapi sampai saat ini masih terjadi peningkatan gempa vulkanik dalam.
Selain itu, gempa vulkanik dangkal pun masih ada.
• Deformasi Gunung Merapi Minggu Ini, BPPTKG Yogyakarta Sebut Ada Pemendekan Jarak Tunjam 2 Cm
Sementara, lanjutnya, gas vulkanik dalam Gunung Merapi saat ini berada pada kisaran yang tinggi, yaitu 400 ppm.
Pada 2019 jumlahnya berkisar 300 ppm.
Adapun jarak tunjam Gunung Merapi dipantau dari electronic distance measurement (EDM) Babadan sejak 22 Juni-9 September 2020 memendek sebesar 18 cm dengan laju 0,32 cm per hari.
“Indikasi intrusi magma berupa deformasi saat ini belum berpotensi bahaya. Potensi bahaya baru dapat dihitung ketika sudah muncul kubah lava,” ujar Hanik dalam Webinar Peringatan 100 Tahun Pemantauan Gunung Api di Indonesia dengan tema “Erupsi Besar Merapi Tahun 2010: Sebuah Refleksi di Masa Pandemi”, Jumat (11/9/2020).
Ia menjelaskan, erupsi Merapi yang terjadi pada 2020 tergolong kecil, yakni dengan VEI 1.
Aktivitas Merapi saat ini memasuki fase intrusi baru (fase 7). Jika tekanan magma kuat, kata Hanik, maka erupsi akan terjadi kembali.
• UPDATE Aktivitas Gunung Merapi Pekan Ini, Terjadi Pemendekan Jarak Tunjam Sekitar 2 Sentimeter
“Indikasinya ya Merapi akan erupsi, tapi sebesar apa. Erupsi magmatik berikutnya diprediksi akan mengikuti perilaku erupsi 2006, yaitu dengan VEI 2 dibandingkan 2010 yang memiliki VEI 4. Tidak ada indikasi yang berikutnya kepada erupsi 2010,” tuturnya.
Namun, jika tidak terjadi erupsi, intrusi magma akan berperan sebagai sumbat yang mengakhiri siklus erupsi 2018-2019.
Terkait potensi bahaya saat ini, menurut Hanik yang akan terjadi cenderung efusif diukur berdasarkan volume kubah lava yang dapat menghasilkan awan panas.
Volume kubah lava berdasarkan foto drone pada 13 Juni 2020 sebesar 200.000 m3. Sejak Januari 2019 hingga saat ini kubah lava tidak mengalami pertumbuhan.