UPDATE Pantauan Aktivitas Terkini Gunung Merapi, Aktivitas Kegempaan hingga Potensi Erupsi
Pada pekan ini ini, yakni pada 4-10 September 2020, aktivitas Gunung Merapi secara garis besar relatif sama dengan minggu lalu.
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Muhammad Fatoni
Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi dan ditetapkan dalam tingkat aktivitas waspada.
"Potensi bahaya saat ini berupa awan panas dari runtuhnya kubah lava dan lontaran material vulkanik dari letusan eksplosif. Kepada para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana Gunung Merapi direkomendasikan agar radius 3 km dari puncak Gunung Merapi dikosongkan dari aktivitas penduduk dan pendakian. Masyarakat di sekitar alur Kali Gendol agar meningkatkan kewaspadaan," tandasnya.
Aktivitas Kegempaan dan Potensi Erupsi
Sejak ditetapkan berstatus waspada pada 21 Mei 2018 hingga saat ini, Gunung Merapi masih menunjukkan terjadinya aktivitas di atas normal.
Saat ini, aktivitas kegempaan Gunung Merapi masih terjadi setiap hari, sementara erupsi terakhir Merapi terjadi pada 21 Juni 2020.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida, mengatakan kondisi Merapi sampai saat ini masih terjadi peningkatan gempa vulkanik dalam. Selain itu, gempa vulkanik dangkal pun masih ada.
Sementara, lanjutnya, gas vulkanik dalam Gunung Merapi saat ini berada pada kisaran yang tinggi, yaitu 400 ppm. Pada 2019 jumlahnya berkisar 300 ppm.

Adapun jarak tunjam Gunung Merapi dipantau dari electronic distance measurement (EDM) Babadan sejak 22 Juni-9 September 2020 memendek sebesar 18 cm dengan laju 0,32 cm per hari.
“Indikasi intrusi magma berupa deformasi saat ini belum berpotensi bahaya. Potensi bahaya baru dapat dihitung ketika sudah muncul kubah lava,” ujar Hanik dalam Webinar Peringatan 100 Tahun Pemantauan Gunung Api di Indonesia dengan tema “Erupsi Besar Merapi Tahun 2010: Sebuah Refleksi di Masa Pandemi”, Jumat (11/9/2020).
Ia menjelaskan, erupsi Merapi yang terjadi pada 2020 tergolong kecil, yakni dengan VEI 1.
Aktivitas Merapi saat ini memasuki fase intrusi baru (fase 7). Jika tekanan magma kuat, kata Hanik, maka erupsi akan terjadi kembali.
“Indikasinya ya Merapi akan erupsi, tapi sebesar apa. Erupsi magmatik berikutnya diprediksi akan mengikuti perilaku erupsi 2006, yaitu dengan VEI 2 dibandingkan 2010 yang memiliki VEI 4. Tidak ada indikasi yang berikutnya kepada erupsi 2010,” tuturnya.
Namun, jika tidak terjadi erupsi, intrusi magma akan berperan sebagai sumbat yang mengakhiri siklus erupsi 2018-2019.
Terkait potensi bahaya saat ini, menurut Hanik yang akan terjadi cenderung efusif diukur berdasarkan volume kubah lava yang dapat menghasilkan awan panas.
Volume kubah lava berdasarkan foto drone pada 13 Juni 2020 sebesar 200.000 m3. Sejak Januari 2019 hingga saat ini kubah lava tidak mengalami pertumbuhan.
• Dua Tahun Berstatus Waspada, BPPTKG Sebut Merapi Belum Mengindikasikan Erupsi Besar
• BNPB dan BPBD DIY Gelar Simulasi Penanggulangan Bencana Erupsi Merapi pada Masa Pandemi