Human Interest Story
Kisah Petugas Pertama Pemakaman Jenazah Covid-19
Meski dalam hati berkata cukup, namun pandemi Covid-19 tetap saja membuat pria bernama Arya Dhanika harus bersedia mengevakuasi jenazah yang dinyataka
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Ari Nugroho
Sebagai penawar kesedihan, para petugas ini melampiaskannya di baju hazmat yang dikenakan.
• Kronologi Suami di Makassar Protes dan Akan Pindahkan Makam Istrinya dari Pemakaman Khusus COVID-19
Barangkali banyak ditemui baju APD yang dikenakan tim petugas pemakaman ini penuh dengan goresan tinta dan beragam gambar.
"Ya itulah bentuk ekspresi kami, hiburan kami semua. Satu yang harus wajib ada coretan itu ya nama kita, kedua harus dicantumkan golongan darah. Supaya apa?supaya mudah identifikasinya jika terjadi hal-hal tak terduga," ungkap dia.
Penuliasan golongan darah di APD para petugas pemakaman ini perlu dan sangat berguna.
"Karena kalau ada yang sakit atau tertimpa hal buruk lain, pihak tenaga medis mudah identifikasi. Oh ini namanya si a golongan darahnya AB. Misalnya seperti itu," beber Arya.
Setelah mengantar jenazah ke pemakaman, para petugas ini harus masuk ke ruang dekontaminasi.
Tujuannya agar mereka terhindar dari virus yang menempel pada tubuh masing-masing petugas.
Ada enam tahapan yang harus dilalui, mulai dari penyemprotan disinfektan, sabun hingga dekontaminasi itu sendiri.
Sebuah tindakan yang berisiko tinggi, namun tanpa mereka proses pemakaman Covid-19 tidak berjalan lancar.
"Di kampung itu saya dibuat bahan bercandaan. Kata mereka "Awas jangan dekat-dekat Arya, nembe gowo mayit"(baru membawa jenazah) tapi kan dengan nada bercanda," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/arya-dhanika.jpg)