Human Interest Story

Kisah Petugas Pertama Pemakaman Jenazah Covid-19

Meski dalam hati berkata cukup, namun pandemi Covid-19 tetap saja membuat pria bernama Arya Dhanika harus bersedia mengevakuasi jenazah yang dinyataka

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Miftahul Huda
Arya Dhanika 

Pengalaman lain, Arya juga sempat menemui ukuran liang lahat tidak sesuai dengan ukuran peti jenazah.

Kali ini memang cukup menggelitik, mau tidak mau rencana pemakaman harus dihentikan untuk sementara.

Hingga Minggu 7 Juni 2020, Relawan PMI dan BPBD Gunungkidul Sudah Tangani Pemakaman 61 Jenazah

"Nunggu digali lagi. Sementara kami sudah mulai gerah. Karena masker pelindung yang kami kenakan ini berat untuk bernapas. Semakin panik semakin terasa berat. Belum lagi APD yang kami kenakan juga betul-betul rapat. Sampai harus ditutup pakai lakban," sambung Arya.

Sementara untuk medan TPU paling ekstrem yang pernah ditemui, menurut Arya di TPU Purawisata, Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta.

"Karena lahan yang kosong itu sedikit. Sementara jarak paling dekat dari pintu gerbang sejauh 150 meter. Banyak nisan yang menghalangi juga," ujarnya.

Jenazah Menunggu Satu Jam di Ruang Dekontaminasi

Pengalaman yang cukup unik juga sempat ia alami. Ketika itu penjemputan jenazah dilakukan.

Sekitar pukul 11.30 tim pemakaman bergegas dari Markas Komando (Mako) menuju rumah sakit.

Ketika itu jenazah harus dikirim ke wilayah Gambiran, Umbulharjo, Yogyakarta. Di tengah perjalanan, instruksi datang jika liang lahat terdapat kendala.

Lahan yang digali oleh warga ditemukan terdapat bekas cor beton.

Jenazah yang sudah terlanjur jalan pun terpaksa harus dibelokkan ke ruang dekontaminasi.

"Saat itu gugup kan, jenazah sudah dalam perjalanan. Akhirnya kami belok ke markas dan ke lapangan dekontaminasi. Supaya hal-hal buruk tidak terjadi," ungkap pria dua anak ini.

Selama menjadi petugas pemakaman Covid-19, teriakan histeris keluarga yang ditinggalkan tetap saja terngiang dalam ingatannya.

Seringkali pihak keluarga memiliki keinginan kuat untuk membuka kembali peti jenazah dan hendak melihat raut wajah almarhum untuk terakhir kalinya.

"Tapi kan terbentur SOP. Jadi ikut sedih jika harus mengingat-ingat," urainya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved