Human Interest Story
Kisah Petugas Pertama Pemakaman Jenazah Covid-19
Meski dalam hati berkata cukup, namun pandemi Covid-19 tetap saja membuat pria bernama Arya Dhanika harus bersedia mengevakuasi jenazah yang dinyataka
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Ari Nugroho
Bagi dirinya, tidak ada hal yang menarik ketika menjadi tim pemakaman jenazah yang terindikasi Covid-19.
Malah menurutnya setiap saat banyak dukanya. Duka itu muncul dari keluarga pasien yang meninggal.
• Viral Medsos, Nisan di Tempat Pemakaman Umum di Madiun Dicat Warna-warni, Begini Penampakannya
"Yang paling saya ingat itu ketika memakamkan balita. Itu seusia anak saya. Saya merasa gak kuat dan langsung teringat anak saya. Ya gak kuasa saja, kenapa anak balita harus meninggal dan dimakamkan dengan protap seperti ini," ujarnya.
Katanya, jika ada foto para jenazah yang ia makamkan dengan protokol penanganan Covid-19 bisa saja ia menangis.
"Untung tidak ada foto para jenazah yang saya makamkan. Mungkin saya lebih sulit untuk mengontrol diri," sambung dia.
Saking merasa shock dan butuh energi yang luar biasa, sepulang dari Wonogiri dan memakamkan jenazah kiriman dari Yogyakarta, mobil TRC yang ia kendarai menabrak kendaraan lain.
"Saking capeknya mungkin. Makanya kalau memakamkan usahakan kondisi betul-betul fit. Apalagi masker yang saya kenakan itu kan tidak boleh lebih dari empat jam. Karena lelah fokus saya terganggu dan perjalanan pulang dari wonogiri mobil saya menabrak kendaraan lain," kenangnya.
Berhenti Tiga Kali Hingga Ukuran Liang Lahat Tak Sesuai
Bagi yang belum merasakan berada di balik baju Hazmat mungkin akan sulit merasakan.
Namun, dari pengalaman Arya sepertinya patut dijadikan gambaran jika petugas pemakaman sesuai protap Covid-19 juga memiliki risiko yang cukup berat.
Lantaran medan yang cukup jauh dan terjal, mereka sempat berhenti selama tiga kali sebelum akhirnya sampai ke liang lahat.
Beban yang mereka bawa bukanlah karung berisi kapas. Melainkan beban yang ia bawa adalah peti yang terbuat dari kayu jati dan ada satu jenazah di dalamnya.
Berat peti tanpa jenazah saja menurutnya bisa sampai 50 hingga 70 kilogram.
Ketika ditambah berat 60 atau 80 kilogram jenazah bisa dibayangkan betapa pekerjaannya cukup menguras tenaga.
"Itu pun harus berjalan 150 meter dari gerbang pemakaman. Ya kalau yang untung ya dapat yang ringan. Kalau enggak ya dapat yang berat. Kami kan ada lima tim, semua diacak. Tidak boleh milih yang ringan. Harus siap apa pun itu," tegas pria usia 38 tahun ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/arya-dhanika.jpg)