Update Corona di DI Yogyakarta
Total Karyawan Supermarket di Sleman yang Reaktif Jadi 57 Orang
Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sleman telah melakukan rapid test kepada 196 karyawan supermarket.
Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
"Masyarakat sejak dulu diminta jujur. Kalau tidak jujur akan menyebabkan penyebaran yang meluas. Ini salah satu contoh, ketidak jujuran satu orang, menyebabkan 57 orang reaktif dan kita harus rapid test sejumlah 300an orang," tegasnya.
Agar kejadian ini tidak kembali terulang di ia mengimbau agar supermarket atau toko swalayan lainnya melakukan prosedur physical distancing.
• Pemkab Sleman Tutup Sementara Supermarket di Mlati Sambil Tunggu Hasil SWAB Seluruh Karyawan
Jika ditemukan ada supermarket atau toko swalayan yang tidak menerapkan protap kesehatan, maka pihak pemerintah akan memberikan peringatan.
"Akan kami beri peringatan, jangan sampai mereka semangat kelarisan, jadi lupa (physical distancing)," ujarnya.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Joko Hastaryo menjelaskan bahwa saat ini pihaknya tengah berkoordinasi dengan Dinas Komunikasi dan Informasi untuk membuat aplikasi.
Aplikasi tersebut akan digunakan untuk menjaring pengunjung supermarket tersebut yang kemudian akan dilakukan rapid test.
"Saya yakin akan banyak (pengunjung), padahal kuota alat rapid test kita terbatas, maka kita akan melakukan seleksi," ujarnya.
Joko menjelaskan, bahwa stok alat rapid test yang dimiliki Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman tersisa 400 unit.
• Dua Warga Kota Yogyakarta yang Bekerja di Supermarket Sleman Berstatus PDP
Dan pihaknya telah melakukan pengadaan dan rencananya sejumlah 2.000 unit alat rapid test akan tiba pada Senin (11/5/2020) besok.
Selain itu, pihaknya juga tetap mengajukan pengadaan alat rapid test ke Dinas Kesehatan DIY.
Saat disinggung apakah nanti akan berpotensi munculnya klaster baru, Joko tidak manampik hal tersebut.
Ia berharap tak ada kasus positif dalam kasus tersebut.
Namun demikian, ia mengungkapkan sejauh ini presentase kasus positif saat dilakukan rapid test sebesar 10-20 persen.
"Jika nanti ada satu saja kasus terkonfirmasi positif, kluster baru penularan bisa saja terbentuk," ujarnya. (TRIBUNJOGJA.COM)