Moskow Sangkal Tuduhan Turki, Operasi Militer ke Idlib untuk Basmi Teroris
Moskow Sangkal Tuduhan Turki, Operasi Militer ke Idlib untuk Basmi Teroris
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJGJA.COM, MOSKOW – Pemerintah Rusia menyangkal operasi militer ke wilayah Provinsi Idlib, Suriah, bertujuan membunuhi warga sipil sebagaimana tuduhan Turki.
Juru bicara Kremlin, Dmitri Peskov, meyakinkan Rusia tetap berkomitmen menjalankan kesepakatan Sochi yang memutuskan zona de-eskalasi di Idlib.
“Kremlin masih komit menjalankan kesepakatan Sochi, dan Turki juga seperti di naskah berkomitmen menetralisir kelompok teroris yang terkonsentrasi di Idlib,” kata Peskov dikutip Sputniknews.com, Rabu (12/2/2020) sore WIB.
Presiden Turki Tayyip Erdogan selain mengancam akan menembak semua pesawat dan helikopter militer Suriah jika memasuki udara Idlib, juga menuduh Rusia melanggar kesepakatan Sochi 2018.
Terkait aksi penembakan pesawat Suriah, Erdogan tak menyebut apakah ancaman itu juga ditujukan ke armada tempur Rusia yang selama ini beroperasi membombardir kelompok pemberontak di Idlib.
Secara percaya diri, Erdogan di depan Parlemen Turki di Ankara, Rabu (12/2/2020) juga untuk kesekian kalinya mengancam akan mengerahkan pasukan darat guna mengusir tentara Suriah dari wilayah Provinsi Idlib.
• Presiden Turki Tayyip Erdogan Ancam Tembak Semua Pesawat Suriah yang Masuk Idlib
• Setelah Tujuh Tahun Berjuang, Suriah Rebut Kembali Kota Penting di Aleppo
Hingga hari ini ada 14 tentara Turki tewas di front tempur sekitar Idlib. Mereka sejak bulan lalu mendirikan pos-pos pemantauan, dan menduduki wilayah Suriah secara ilegal.
Erdogan mengatakan kepada parlemen, aia akan menyelesaikan semua misinya mengusir pasukan Suriah dari Idlib pada akhir Februari ini.
“Kita akan melakukan segalanya, tindakan di darat maupun udara,” kata Erdogan dikutip Aljazeera.com. Ia mengklaim 12 pos militer di Idlib didirikan Turki sebagai implementasi kesepakatan Sochi 2018.
Rusia dan Turki saat itu menjadi sponsor peredaan konflik Suriah, dan menyepakati zona de-eskalasi konflik di Idlib. Turki selanjutnya mengirimkan pasukan guna mengawasi pelaksanaan kesepakatan.
Sebelumnya, Erdogan secara terbuka mengultimatum pemerintah Suriah akan membayar sangat mahal atas operasi militernya di Idlib.
Namun di lapangan kesepakatan itu tinggal di atas kertas. Kelompok pemberontak yang jumlahnya belasan ribu dan bercokol di Idlib, terus menyerang pasukan Suriah.
Damaskus akhirnya menggelar operasi merebut Idlib sejak akhir Desember 2019, dan mencapai kemajuan sangat signifikan saat Kota Saraqib berhasil mereka rebut kembali.
• Tiga Tentara Turki Tewas di Front Tempur Idlib Bagian Utara
Turki sangat berkepentingan atas Idlib, karena di provinsi inilah mereka membentuk dan memelihara sejumlah kelompok bersenjata yang memberontak.
Di antaranya yang paling besar kelompok hayat Tahrir al-Sham, yang dulunya bernama Front Nusra atau Jabhat al-Nusra.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/krisis-venezuela-pemerintah-rusia-tegaskan-akan-lindungi-aset-minyaknya.jpg)