Bantul

Upacara Adat Parahita Ruwatan Murwo Bumi, Wujud Syukur dan Doa Tolak Bala Warga Desa Dlingo

Diiringi suara gamelan dan derap langkah Bregada, pukul 11.00 siang itu, warga Desa Dlingo mengarak satu gunungan berisi sayur mayur hasil bumi menuju

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin
Warga berebut gunungan sayur mayur dalam upacara adat Parahita Ruwatan Murwo Bumi di Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Diiringi suara gamelan dan derap langkah Bregada, pukul 11.00 siang itu, warga Desa Dlingo mengarak satu gunungan berisi sayur mayur hasil bumi menuju tanah lapang, di Balai Budaya Macapat, Desa setempat.

Di tanah lapang itu, sudah terdapat satu jodhang berbentuk Joglo berisi buah sawo.

Setelah diarak memutari tanah lapang, gunungan itu kemudian ditempatkan disamping Joglo.

Letaknya bersebelahan. Warga kemudian berbaris melingkari Joglo dan Gunungan.

Ini merupakan bagian dari prosesi upacara adat, Parahita Ruwatan Murwo Bumi.

Digagas oleh Pemerintah Desa Dlingo bersama tokoh agama dan segenap warga.

Warga Dlingo Bantul Gelar Upacara Adat Parahita Ruwatan Murwo Bhumi

Setelah gunungan dan Joglo diletakkan bersebalahan, tak berselang lama, sepuluh pemuka agama, berpakaian adat, masuk ke tanah lapang yang merupakan pusat prosesi upacara adat dengan membawa kendi.

Kendi itu berisi air yang diambil dari sepuluh mata air, dimasing-masing Padukuhan Desa Dlingo.

Air dari sepuluh kendi itu, oleh Lurah Desa kemudian satu persatu dituangkan kedalam satu wadah.

Lalu dicipratkan ke gunungan sayur mayur dan Joglo yang berisi buah sawo tersebut.

Setelahnya, ditengah tanah lapang, dibawah terik matahari, segenap warga desa Dlingo itu kemudian memanjatkan doa keselamatan.

Mereka mengungkapkan rasa syukur dan meminta kepada Tuhan, agar diberikan kemurahan rezeki dan dijauhkan dari bahaya.

"Ruwatan Murwo Bumi ini merupakan ritual manifestasi dari rasa syukur kita kepada Tuhan yang maha Esa. Termasuk tolak bala. Kita meminta kepada Tuhan, supaya dijauhkan dari segala mara bahaya," kata Lurah Desa Dlingo, Agus Purnomo, disela prosesi upacara adat, Kamis (24/10/2019).

Sebagai wujud syukur dari prosesi adat ini, di sudut yang lain, tetapi masih satu tempat, seribu nasi sarang disiapkan.

Nasi sarang merupakan nasi pulen lengkap dengan lauk pauk yang dikemas menggunakan janur kelapa.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved