Kota Yogya

Batik Prosesi Mitoni GKR Hayu Dipamerkan di Taman Pintar Yogyakarta

Terdapat tujuh koleksi batik koleksi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam pameran tersebut di antaranya batik Nogosari, Grompol, Sidoasih, dll.

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Kurniatul Hidayah
GKR Bendara dan GKBRAy Paku Alam saat membuka pameran Batik dalam Ruang dan Waktu, di Gedung Oval Taman Pintar, Jumat (20/9/2019). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Koleksi batik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang digunakan saat mitoni atau prosesi tujuh bulanan GKR Hayu yakni putri keempat Sri Sultan Hamengku Buwono X, dipublikasikan dalam pameran Batik dalam Ruang dan Waktu yang digelar di Gedung Oval Taman Pintar, Jumat (20/9/2019).

Adik GKR Hayu, yang juga putri bungsu Sultan yakni GKR Bendara, dalam pembukaan pameran tersebut mengatakan bahwa mitoni merupakan serangkaian adat jawa yang dilakukan pada bulan ke tujuh kehamilan pada anak pertama.

Keceriaan Pedagang dan Juragan Sayur Berjoget Ria di Grebek Pasar Isuzu Traga 2019 Magelang

Mitoni tidak berlaku untuk kehamilan berikutnya.

"Mitoni berasal dari kata tujuh. Tujuannya memohon keselamatan dan pertolongan pada Tuhan agar kelahirannya lancar dan doa untuk bayi agar jadi pribadi baik lahir batin. Pengharapan ini yang divisualisasikan dalam batik," jelasnya.

Dari informasi yang dihimpun Tribunjogja.com, terdapat tujuh koleksi batik koleksi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam pameran tersebut yakni batik Nogosari, Grompol, Sidoasih, Semen Romo, Sudomukti, Cakar Ayam, dan Babon Angrem.

"Kain yang digunakan saat mitoni bisa berkembang atau disesuaikan dengan keinginan orang tua bayi. Contohnya saat kakak saya memilih motif Sidoasih, karena ada doa-doa di dalamnya. Tapi motif cakar ayam yang melambangkan kelak bayi memiliki rezeki dan lancar kehidupannya sudah banyak dipakai mitoni di masyarakat luas," terangnya.

Taman Pintar Yogyakarta Gelar Pameran Batik Keraton dan Pakualaman

Bendara juga menjelaskan, dalam prosesi mitoni, seorang ibu akan berganti pakaian tujuh kali dengan cara berlapis.

Kalau dilihat proses mitoni, ibu memakai pakaian tujuh kali berganti dan yang terakhir adalah yang akan dibilang pantas oleh semua orang yang hadir dalam mitoni.

"Pakaian terakhir yang tersimpel, harusnya tenun. Bukan batik. Tenun merupakan warisan budaya juga. Tenun yang tersimple yang pantes karena ibu yang mengandung tidak akan memikirkan duniawi. Pakaian tersimpel digunakan ibu adalah yang terbaik untuk anaknya," urainya.

Sementara itu, Permaisuri Paku Alam X yakni GKBRAy Paku Alam yang dalam pameran tersebut juga menampilkan koleksi Kadipaten Puro Pakualaman menjelaskan bahwa batik yang dipamerkan tersebut adalah batik pepadan.

Taman Pintar Simpan Kenangan tentang BJ Habibie

"Pepadan seperti bait yang ada di lagu macapat karena warga Yogya mengenal batik sejak dulu kala, keseharian pakai batik, juga untuk adat tradisi pakai batik, sebelum UNESCO menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan tak benda," ucapnya.

Gusti Putri, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa batik pepadan yang dipamerkan tersebut menceritakan tentang daur kehidupan.

Ia terinspirasi dari Serat Babad Pakualaman, Babad Giyanti, Babad Dipanegaran, Serat Astabrata.

Ada 10 koleksi batik yang ditampilkan yakni Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanthi, Asmarandana, Dhandhanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, dan Pocung.

"Saya berharap dengan adanya pameran ini, masyarakat khususnya Yogya semakin mengenal batik khas Yogya," pungkasnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved