Mengenal Masjid Pathok Negoro Plosokuning Sleman, Sang Penjaga dari Utara
Dalam suatu komunitas umat Islam, masjid merupakan suatu komponen yang diutamakan pendiriannya.
Penulis: Tantowi Alwi | Editor: Ari Nugroho
Masjid Babadan: terletak di sisi timur kota yakni di Kauman, Babadan, Banguntapan, Bantul.
Masjid Mlangi: terletak di sisi barat laut berada kota di Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman.
Kamal menuturkan tidak diketahui secara pasti kapan tepatnya pendirian Masjid Pathok Negoro Plosokuning, “Umurnya kira-kira sudah 250 tahun. Ini bagian dari desain Keraton Yogyakarta,” ungkap Kamal.
Baca: Pembersihan Masjid Pathok Negoro Plosokuning Sleman oleh Driver Go-Jek Disambut Positif
Jika ditarik dari Puncak Merapi, maka Masjid Pathok Negoro Plosokuning berada satu garis lurus antara Puncak Merapi, Keraton Yogyakarta, hingga Pantai Selatan.
Selain itu, menurut Kamal, Masjid Pathok Negoro Plosokuning tengah disiapkan menjadi Pusat Kajian Islam Mataram.
“Sedang disiapkan lahan tambahan sekitar 3000 m, sudah ada penyusunan grand design pengembangan kawasan Masjid Protonegoro,” kata Kamal.
Kamal sangat bersyukur karena masyarakat di Yogyakarta banyak yang peduli dengan Cagar Budaya Masjid Pathok Negoro Plosokuning.
"Ini merupakan warisan leluhur yang tak ternilai harganya, umurnya sudah sekitar 250 tahun, karya Sultan HB I," kata Kamal.
Kamal juga berharap, agar masyarakat dapat bersama-sama menjaga dan melestarikan karya para leluhur.
Baca: Bersih-bersih di Masjid Pathok Negoro Plosokuning Sleman Berlangsung Penuh Kebersamaan
Khusus untuk Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Kamal menyampaikan, bahwa tidak perlakuan khusus untuk melestarikannya, cukup dengan membersihkan bangunan fisik secara rutin.
"Tinggal pembersihan saja, enggak boleh dirubah bentuknya, warisan budaya tidak boleh dirubah fisiknya, itu kewenangan Dinas Kebudayaan," ucapnya.
Lebih lanjut, bukan hanya bangunan fisik yang perlu dijaga tetapi menjaga budaya, tradisi juga penting.
"Hal-hal yang berkaitan dengan syariat agama Islam, sholawatan Jawa, tradisi Islami, ruahan, safaran. Itu perlu dilestarikan. Saat ini ketertarikan orang-orang agak berkurang karena budaya luar, yang dianggap lebih menarik," tambahnya.
Melihat fenomena itu, Kamal tetap optimis bahwa tradisi dan budaya Jawa tetap akan lestari.
"Harus terus menggali partisipasi dari masyarakat," pungkasnya.(TRIBUNJOGJA.COM)