Rumah Liem Soei Liong Saksi Kerusuhan 98
menjadi saksi sejarah akan amok dan kerusuhan itu. Puing-puing banghunan dibiarkan teronggok, dan tidak dihuni.
Ternyata rumah tersebut telah dibakar habis. Barang-barang miliki bos BCA, Bogasari, Indofood dan ratusan perusahaan itu tidak bersisa. Bahkan ia mendapat informasi, seorang penjarah mendapatkan emas dari rumah tersebut. "Tapi sudah kehitaman bentuknya," ujarnya.
Pengawal berjumlah lima orang yang menjaga rumah Om Liem tak kuasa menahan massa. Penjarah merobohkan pagar setinggi dua meter. "Pintu besi ambruk semua," kata Niti.
Dua hari setelah kejadian pembakaran tersebut, Niti langsung mengantarkan Anthoni Salim ke Bandara Halim Perdana Kusuma untuk mengungsi ke Singapura. Dari sana, Niti langsung datang ke rumah Om Liem untuk melihat situasi.
Ia juga diperintah untuk membangun pagar seng disekitar rumah tersebut. Saat datang banyak pemulung yang sudah berebut rongsokan di tempat itu. Niti kemudian menghalau pemulung tersebut untuk keluar dari rumah Sudono.
"Saya bilang, saya akan foto kamu semua untuk dilaporkan ke polisi, mereka takut dan bubar," imbuhnya.
Satu regu marinir kemudian diterjunkan untuk menjaga rumah pengusaha itu. "Baru ada satu regu marinir setelah kebakaran," ujar Niti.
Niti terus melaporkan kejadian di Jakarta kepada majikannya di Singapura. Om Liem yang telah menjalani operasi katarak kemudian menuju Singapura untuk menenangkan keluarganya.
Selang setahun kemudian ia kembali ke Jakarta. Dengan mobil, ia sempat berhenti di depan rumahnya yang telah hangus terbakar. Om Liem hanya menggelengkan kepala, tidak ada kalimat yang terucap dari mulutnya. Istrinya kemudian memintanya masuk kembali ke mobil. "Sudah, kita pergi lagi," kata Niti menirukan Nyonya Liem.
Selama di Jakarta, Om Liem juga tidak pernah tinggal di rumah lamanya Gunung Sahari VI. Sudomo lebih memilih bermalam di kediaman anak terakhirnya Mira Salim. "Di sana ada kamar spesial untuk Pak Sudono di sana," ujarnya.
Niti juga menceritakan bahwa rumah-rumah di sekeliling kediaman Om Liem juga telah sepi dan tidak ada aktivitas. Di depan rumah Sudono, dahulu tinggal adik kandungnya Om Liem. Namun Sudarmo juga telah meninggal di Singapura. "Sekarang sudah keponakannya semua, sepi mungkin ke Singapura," kata Niti. (*)