Lipsus Angka Pengangguran di Yogya
Sulitnya Bekerja di Yogya, Angka Pengangguran Naik Tapi Lowongan Kerja Terus Menurun
Dari total jumlah tersebut angka pengangur dengan latar belakang pendidikan sarjana terus meningkat.
Penulis: dnh | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Jumlah pengangguran per tahun di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) cenderung fluktuatif. Dari data 2011 hingga 2015, pengangguran sempat turun pada tahun 2012 dan 2013, sementara tahun selanjutnya terus naik.
Data Dinsnakertrans DIY, tahun 2013 jumlah penganggur sebanyak 63.172, 2014 naik menjadi 67.418 dan 2015 menyentuh angka 80.245 orang. Sementara itu dari total jumlah tersebut angka pengangur dengan latar belakang pendidikan sarjana terus meningkat.
"Di 2015 ada 80.245 orang, ini terbanyak. Kemudian proyeksi di tahun 2016 karena rilis belum turun. Dari BPS (proyeksi) 77.413 orang, itu yang penggangur terbuka," ujar Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja Disnakertrans DIY, Elly Supriyanti ketika ditemui Selasa (25/10) kemarin.
Untuk lulusan sarjana, saat ini menempati posisi kedua persentase terbanyak dari total jumlah penganggur, di bawah SMA/SMK. Dari tiga tahun terakhir mulai 2013 hingga 2015 terjadi penambahan jumlah penganggur, berturut turut 10.805, 12.825 dan 14.482.
Menurut Elly, jumlah penganggur sarjana tersebut hanya yang ber KTP DIY, sementara itu untuk yang ber KTP luar DIY namun berdomisili di DIY tidak bisa terdata, sehingga jika ditambah akan lebih banyak. Jika tren penganguran naik, tidak dengan tren jumlah lowongan kerja yang terdaftar di DIY yang cenderung turun drastis. Peluang untuk bekerja di DIY pun menipis.
"Tren lowongan yang terdaftar yang dilaporkan ke kami memang menurun. Kalau mereka maunya kumpul ra kumpul di Yogya ya memang susah. Sebenarnya peluang bekerja di luar Jogja itu cukup besar," kata Elly yang menyebut tenaga kerja asal Yogya adalah yang diminati oleh perusahaan-perusahaan luar seperti di Batam. Menurutnya sudah ribuan pekerja asal Yogya dikirim ke sana.
Data lowongan kerja terdaftar di DIY terus menurun dari lima tahun lalu. 2011, ada 24.208 lowongan terdaftar, namun pada 2015 hanya ada 10.520 lowongan saja. Meski terus menurun, namun tidak semua lowongan terpenuhi, bahkan pada 2015, sekitar 10 persen lowongan belum bisa terpenuhi.
Direktur ECC UGM yang merupakan pusat informasi dan pengembangan karir di bawah Fakultas Teknik UGM, Nurhadi mengatakan bahwa memang saat ini jumlah pengangguran terus meningkat. Namun hal itu tidak selalu berbanding lurus dengan kesempatan bekerja yang ada.
"Di satu sisi, lulusan kampus Yogya termasuk yang diminati oleh perusahaan. Permasalahan sesungguhnya adalah gap kualitas antara kebutuhan dunia kerja dan lulusan. Untuk itu kami mengubah fokus arah layanan dari fungsi sebagai career center ke arah people development center, untuk memperkecil gap itu," ujarnya melalui surat elekronik.
ECC UGM merupakan salah satu pusat informasi dan pengembangan karir berpengaruh di Yogyakarta bahkan Indonesia. Sementara itu saat ini persaingan di dunia kerja menurut Nurhadi cukup tinggi, jumlah lowongan yang dikelola oleh pihaknya selalu diserbu oleh ratusan ribu pelamar.
"Berdasarkan data kami selama 2016 saja, terdapat 646.625 pelamar online untuk 1731 lowongan online yang kami kelola. Itu artinya, satu posisi lowongan yang dibuka dilamar oleh kurang lebih 374 pelamar. Satu posisi kerja memiliki jumlah kuota diterima yang bervariasi," jelasnya.
Dari jumlah lowongan, hanya sebagian kecil saja yang memiliki penempatan di Yogyakarta, yakni 157 lowongan saja. Meski begitu, tidak jarang perusahaan hanya menemukan satu bahkan tidka menemukan kandidat sama sekali untuk mengisi satu posisi. Menurut Nurhadi hal tersebut dikarenakan pelamar tidak memiliki kandidat dengan kompetensi yang sesuai dan diinginkan. (*)