Rumah Liem Soei Liong Saksi Kerusuhan 98

menjadi saksi sejarah akan amok dan kerusuhan itu. Puing-puing banghunan dibiarkan teronggok, dan tidak dihuni.

Tayang:
Editor: Iwan Al Khasni
Usahawan sukses Sudono Salim atau  Liem Soei Liong alias Om Liem adalah orang dekat mantan Presiden Soeharto. Bukan rahasia, semasa Pak Harto memimpin rezim Orde Baru 32 tahun lebih, Om Liem, sering dikaitkan sebagai konglomerat yang mendapat perlakuan khusus Orba. Ketika masyarakat bosan atas pemerintahan diktator dan tidak menyejahterakan, maka Sudono Salim ikut jadi sasaran.

Amuk massa Mei 1998, rumahnya di Jalan Angkasa-Gunung Sahari dijarah dan dibakar, yang membuatnya trauma dan melarikan diri ke Singapura hingga akhir hayatnya, Minggu kemarin. Hingga kini, sederet rumah di kawasan Jalan Aangkasa-Gunung Sahari, Jakarta Pusat, seakan dibiarkan menjadi saksi sejarah akan amok dan kerusuhan itu. Puing-puing banghunan dibiarkan teronggok, dan tidak dihuni.

Dan kerusuhan 14 tahun silam itulah, rupanya meninggalkan trauma mendalam bagi Om Liem. bagimana tidak? Taipan bisnis itu hijrah ke negeri tetangga, Singapura, usai kerusuhan Mei 98.

Om Liem disebut-sebut bagian dari Geng Empat Sekawan Konglomerat, teman dekat mantan Presiden Soeharto. Tiga lainnya adalah Sudwikatmono, Ibrahim Risjard, dan Djuhar Sutanto. Tiga rekannya telah meninggal, tinggal seorang Djuhar yang masih hidup. Geng empat sekawan itulah yang merintis kerajaan bisnis Bank Central Asia (BCA), pabrikan tepung Bogasari, pabrikan penganan Indofood, pabrik semen Indocement dan ratusan perusahaan lainnya

Sederet rumah, mirip rumah toko (ruko) di perempatan Jalan Angkasa dengan gang di tepi rel Kereta Api menuju Stasion Kota, tampak kusam. Warna gelap, tanpa cat, kesan bekas terbakar masih tampak.. Bagian depan bangunan sepanjang kurang lebih 100 meter , berpagar jeruji besi. Bagian atas pagar di tempeli seng kusam, tanpa cat, diikatkan mendatar, horizontal. Bangunan tanpa pencahayaan. Pekarangan dirawat, tidak ditumbuhi semak-belukar.

"Ya, itu rumah keluarga Om Liem. Dari sini, Hotel Golden sampai ke ujung sana, dekat rel kereta api, itu semua milik keluarganya. Hotel ini milik Sudwikatmono, teman Om Liem juga, konglomerat dekat Cendana," ujar Ujang, warga RT 10 RW 5 Kelurahan Gunung Sahari Utara, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, saat diajak Tribun berkeliling mengamati kompleks perumahan keluarga Om Liem, Senin (11/6/2012) dini hari.

Lebih satu dekade terakhir, Om Liem tinggal menetap di Singapura. Pascakerusuhan 1998, ia seakan tidak sudi kembali tinggal menetap di  Jakarta, yang menyisakan trauma mendalam. Dia memang melejit lewat bisnis cengkeh bersama keluarga Cendana, namun belakangan, bisnisnya pun yang ambruk dan hancur, bersama jatuhnya Soeharto.

"Itu rumahnya yang hangus dirusak dan dibakar massa pada kerusuhan 98," kata Ujang mengimbuhkan, sembari menunjuk bangunan tua di tepi rel kereta api antara Stasion Kota dan Stasion Pasar Senen.

Ace, anggota Hansip RW 5 Kelurahan Gunung Sahari Utara, yang ditemui di Posko Hansip RW 5, persis di pojok luar pagar rumah Om Liem yang terbakar itu membenarkan bekas hunian konglomerat itu tanpa penghuni. "Dari depan sana sampe ke sini memang rumah Om Liem. Sejak kerusuhan 98 tidak ditempati lagi," ujar Ace.

Walau rumah besar itu sempat menjadi sasaran amok massa 14 tahun lalu, menurut Ace tidak ada kesan angker. Dia maupun anggota Hansip lainnya dan warga tidak pernah mendengar kisah misteri dari bangunan itu. "Nggak ada ceria aneh-aneh. Dan katanya sudah ada yang ngontrak, mau dijadikan kantor," ujar Ace.

Masih di kawasan Gunung Sahari, berjarak hanya seratusan meter dari rumah utama, namun melalui jalan berliku, adalagi kompleks perumahan keluarga besar Om Liem, yakni Kompleks Jalan Gunung Sahari 6. "Ini sebenarnya jalan, Jalan Gunung Sahari VI, tapi buntu, jadi dinamakan kompleks. Jumlah rumah di kompleks ini sedikit, tidak sampai 30 rumah. Dan boleh dibilang, 80 persen rumah di sini miliss keluarga om Liem," ujar Ujang.

Supriyadi, yang sudah 19 tahun menjadi anggota Hansip Kompleks Gunung Sahari 6,  mengatakan di kompleks itu ada sekitar 20 rumah yang didiami warga. "Sewaktu sehat, Om Liem sering di sini. Sekarang anak-anak dan keluarga besar di sini," kata Supriyadi yang menemui Tribun di luar pagar kompleks. Pagar besi kokoh setinggi lebih dua meter dikunci rapat, dan di dalam berjaga dua anggota Hansip.

Menurutnya, keluarga besar Om Liem berduka. "Jadi rumah pada kosong, pada pergi," kata Supriyadi.

Kesaksian mengenai bagaimana ganasnya perusuh merusak dan menjarah harta-benda Om Liem dituturkan Paulus Antonius Nitisasmito (73), pengawal Om Liem sejak tahun 1969.

Niti, sapaan Paulus Antonius Nitisasmito, mengaku lupa ketika keluarga Sudono Salim pindah rumah dari Jalan Gunung Sahari VI ke depan, berjarak ratusan meter, tepatnya di Jalan Angkasa, Jakarta Pusat. Letaknya di pinggir jalan dengan luas tanah lebih dari 1.000 meter persegi. Niti mengenang peristiwa kerusuhan Mei 1998. Rumah megah itu habis dibakar dan dijarah perusuh.

Niti mengungkapkan dua minggu sebelum kejadian pada 13 Mei 1998, Om Liem sudah berada di Amerika Serikat untuk persiapan menjalani operasi katarak, sakit mata. "Om Liem sama nyonya sudah di Amerika Serikat," ujarnya.

Saat itu, Niti sedang berada di Wisma Indocement mengawal Anthoni Salim. Situasi saat itu sedang memanas. Niti diminta memantau keadaan rumah keluarga Om Liem.

Ternyata rumah tersebut telah dibakar habis. Barang-barang miliki bos BCA, Bogasari, Indofood dan ratusan perusahaan itu tidak bersisa. Bahkan ia mendapat informasi, seorang penjarah mendapatkan emas dari rumah tersebut. "Tapi sudah kehitaman bentuknya," ujarnya.

Pengawal berjumlah lima orang yang menjaga rumah Om Liem tak kuasa menahan massa. Penjarah merobohkan pagar setinggi dua meter. "Pintu besi ambruk semua," kata Niti.

Dua hari setelah kejadian pembakaran tersebut, Niti langsung mengantarkan Anthoni Salim ke Bandara Halim Perdana Kusuma untuk mengungsi ke Singapura. Dari sana, Niti langsung datang ke rumah Om Liem untuk melihat situasi.

Ia juga diperintah untuk membangun pagar seng disekitar rumah tersebut. Saat datang banyak pemulung yang sudah berebut rongsokan di tempat itu. Niti kemudian menghalau pemulung tersebut untuk keluar dari rumah Sudono.

"Saya bilang, saya akan foto kamu semua untuk dilaporkan ke polisi, mereka takut dan bubar," imbuhnya.

Satu regu marinir kemudian diterjunkan untuk menjaga rumah pengusaha itu. "Baru ada satu regu marinir setelah kebakaran," ujar Niti.

Niti terus melaporkan kejadian di Jakarta kepada majikannya di Singapura. Om Liem yang telah menjalani operasi katarak kemudian menuju Singapura untuk menenangkan keluarganya.

Selang setahun kemudian ia kembali ke Jakarta. Dengan mobil, ia sempat berhenti di depan rumahnya yang telah hangus terbakar. Om Liem hanya menggelengkan kepala, tidak ada kalimat yang terucap dari mulutnya. Istrinya kemudian memintanya masuk kembali ke mobil. "Sudah, kita pergi lagi," kata Niti menirukan Nyonya Liem.

Selama di Jakarta, Om Liem juga tidak pernah tinggal di rumah lamanya Gunung Sahari VI. Sudomo lebih memilih bermalam di kediaman anak terakhirnya Mira Salim. "Di sana ada kamar spesial untuk Pak Sudono di sana," ujarnya.

Niti juga menceritakan bahwa rumah-rumah di sekeliling kediaman Om Liem juga telah sepi dan tidak ada aktivitas. Di depan rumah Sudono, dahulu tinggal adik kandungnya Om Liem. Namun Sudarmo juga telah meninggal di Singapura. "Sekarang sudah keponakannya semua, sepi mungkin ke Singapura," kata Niti. (*)

Terkait : Liem Sioe Liong Sempat Jadi Orang Terkaya

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved