Yogyakarta
Masih Banyak Pengguna Narkotika di DIY, Didominasi Usia Produktif
Wilayah DIY saat ini dikatakan masih menjadi salah satu lokasi yang cukup banyak penggunaan narkotika
Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM - Wilayah DIY saat ini dikatakan masih menjadi salah satu lokasi yang cukup banyak penggunaan narkotika. Bahkan pengguna narkotika di DIY didominasi oleh usia produktif.
"Rata-rata (pengguna) usia produktif sekitar usia 30 tahunan, dengan status pekerja," kata Dewa Putu Gede Arta, Direktur Narkotika Polda DIY kepada media disela acara pemusnahan barang bukti tanaman ganja oleh Polresta Yogyakarta di Lapangan Panahan, Timoho, Kota Yogyakarta, Selasa (5/3/2019).
Dewa mengatakan untuk wilayah DIY memang didominasi oleh pengguna bukan produsen. Hal ini dibuktikan dengan hasil penangkapan yang dilakukan oleh Polresta Yogyakarta beberapa lalu, beberapa kasus narkotika berhasil mengungkap ladang dan produsen yang notabene berada di luar DIY. Seperti di Purwakarta dan juga di daerah Surakarta.
Baca: BNNP Sebut DIY Pasar Potensial Narkotika
Banyaknya pengguna yang ada di Yogyakarta salah satunya dikarenakan Kota Gudeg ini banyak diisi oleh mahasiswa dan warga pendatang. Usia pekerja banyak yang masih menyalahgunakan obat terlarang.
Selain itu, harga narkotika yang terjangkau juga mempengaruhi peredaran. Banyak yang tertarik lantaran murah. Dewa mengatakan narkotika paling banyak diedarkan dan dikonsumsi ialah ganja, pil-pil, hingga tembakau gorila.
"Kan itu (ganja) bisa dibilang murah, satu paket hanya Rp 25ribu," ujarnya.
Kendati demikian, Dewa belum mau membeberkan berapa angka prevalensi pasti terkait peredaran narkotika di DIY. Namun pihaknya mengatakan angka prevalensi sudah jauh menurun dari tahun 2014 hingga 2017 lalu.
Baca: Polresta Yogyakarta Musnahkan 1083 Batang Tanaman Ganja, Dibakar di Dalam Drum
"Angka prevalensi itu sangat dinamis, cepat berubah, fokus kita terus menekan. Kalau sebelumnya kita di urutan ke-8 (nasional) dan sekarang kita di urutan 30 tapi ini bukan berarti kita puas. Kita terus berupaya melakukan tindakan pencegahan, ini perlu sinergitas stakeholder," ungkapnya.
Pihaknya hanya berharap, langkah memberantas dan menekan angka peredaran dan penggunaan narkotika diperlukan upaya sinergi dari berbagai stakeholder.
Mulai dari Kepolisian, BNN, Bea Cukai, TNI, Pemerintah dan masyarakat perlu berkomunikasi dengan baik agar angka peredaran bisa terus ditekan sebagai upaya pencegahan.
"Kita terus melakukan upaya pencegahan dibantu stakeholder lain," pungkasnya.(tribunjogja)