Internet Platform, AI System dan Dampaknya
Tulisan ini tentang Internet Platform, AI System, dampaknya ke media massa dan publik, serta apa yang mesti kita lakukan.
Kedua, di area distribusi, AI (persisnya, generative AI berbentuk chatbot seperti ChatGPT, Gemini, atau Copilot) menjadi platform distribusi berita, seperti peran yang saat ini dimainkan Google Search, agregator, dan website berita.
Perubahan itu fundamental seperti perubahan dari koran/majalah ke website, dari TV tradisional ke YouTube atau TikTok, dari radio tradisional ke Spotify.
Dari sisi distribusi, kita menyaksikan perubahan signifikan peran website berita.
Sementara platform sosial media dan video, sepertinya, belum mengalami perubahan signifikan karena peran platform sosial media dan video memiliki fungsi lain selain mendistribusikan berita: mereka platform hiburan.
Nasib Umat Manusia
Tantangan terbesar dari sisi publik, dari sisi regulator. Bagaimana menempatkan AI agar fungsinya bisa dimanfaatkan optimal, pada saat yang sama, dampak negatifnya bisa dimitigasi.
Bayangkan AI adalah alat seperti pistol. Bukan sembarang pistol. Dia senjata api mematikan yang bisa memutuskan sendiri siapa sasarannya, kapan menembak, dengan cara apa, di mana. Pistol ini tidak diprogram tapi dilatih.
Regulasi kita mengatur secara ketat siapa yang boleh memegang pistol dan dipakai untuk apa. Bagaimana dengan pistol berbentuk AI?
AI bukan cuma pistol. Dia mesin yang memproses, menghasilkan, serta mendistribusikan informasi. Karena dia self improve dan menjadi sumber informasi, seperti media, AI memiliki kemampuan membentuk opini publik, membangun collective imagination.
Harap ingat: Pancasila, gotong royong, sopan santun, budaya, dan bahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah collective imagination. Kita membangunnya. Kita mempercayainya. Dia dibangun bertahun-tahun, membentuk persepsi setiap orang, menggerakkan, membentuk kita hari ini.
Karena perannya membangun collective imagination –yang kita kenal dengan pendapat publik (karena itu instrumen penting dalam negara demokrasi)-- pers diatur dengan sangat ketat.
Kode Etik Jurnalistik, misalnya, mengatur bagaimana mencari, mengolah, dan mendistribusikan berita. Ketika mencari berita, misalnya, wartawan harus memperkenalkan diri. Dia tidak boleh berlagak seperti intel.
Jadi, wartawan tidak hanya dituntut mendistribusikan berita yang berguna untuk publik, tapi juga dituntut mencari berita dalam bingkai etik yang melindungi publik.
Berita yang didistribusikan, untuk menyebut satu contoh lagi, harus sudah benar, harus sudah cek dan ricek.
AI, setidaknya saat ini, tidak demikian. Mulai dari proses mengumpulkan informasi (learning), memproses informasi (reasoning), sampai mendistribusikan informasi (dalam bentuk hasil prompting), AI bebas leluasa.
Satu lagi. Pistol bernama AI ini belum sempurna. Dia masih sering halusinasi. Sering ngawur. Hal lain, dia masih sangat lemah di sisi perlindungan hak cipta, copyrights.
Sistem atau entitas yang begitu powerful, yang diakui belum sempurna, sudah bisa diakses publik. Bayangkan kalau entitas itu adalah “pistol cerdas”.
Dia bisa membunuh seorang bayi tidak berdosa, tapi juga bisa melindungi penggunanya dari perampok.
Bayangkan kalau entitas cerdas itu, yang bisa mendistribusikan informasi yang masih mengandung elemen halusisasi –atau bahkan membawa sistem nilai yang berbahaya, seperti bias– bisa diakses semua orang.
Dia bisa membantu meningkatkan produktivitas manusia, tapi pada saat yang sama, dia bisa membangun collective imagination yang baru.
Kalau kita membiarkan demikian, maka kita menyerahkan nasib kita, nasib umat manusia, juga nasib NKRI, pada mahluk yang belum kita atur sama sekali.
Pada akhirnya, “kerumunan” dan “profesor” sedang membentuk dunia yang kita nikmati dan akan wariskan ke generasi berikutnya. Pilihan tersedia di depan kita: kita mengontrolnya atau membiarkannya mengontrol kita. (*)
Penulis: Dahlan Dahi, Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, CEO Tribun Network.
| Perbaikan Jaringan Internet Sumatra Dipercepat Pascabanjir dan Longsor |
|
|---|
| Registrasi Internet Rakyat Rp100.000 per bulan Kecepatan 100mbps |
|
|---|
| 111.500 GB Kuota Internet Disalurkan untuk Sekolah 3T di Tanah Air |
|
|---|
| Sidang Kasus Korupsi Internet Sleman: Eks Kadis Kominfo Terima Jatah Rp22 Juta Tiap Bulan |
|
|---|
| Ketika Luhut Panjaitan Bicara Tentang AI, Ini Paparan Lengkapnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Chief-Executive-Officer-CEO-Tribun-Network-Dahlan-Dahi.jpg)