Dari Keresahan ke Lagu, The BAPUK Hadirkan EP Bertajuk ‘Menengah ke Bawah Volume 1’
Dalam rangka memperkenalkan diri kepada khalayak ramai, The BAPUK menggambarkan diri sebagai warga komplek yang berlagak nge-punk
Penulis: Santo Ari | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Dari obrolan dua sahabat lama yang kembali bertemu, lahirlah sebuah band dengan nama unik: Dengan semangat baru, mereka resmi terbentuk pada 1 Mei 2025 dan kini merilis mini album perdana bertajuk ‘Menengah ke Bawah Volume 1’ pada 22 Agustus lalu.
Adapun dipilihnya nama The BAPUK itu bukan tanpa alasan. Mereka memang ingin menghadirkan sesuatu yang dekat dengan keseharian. Tak disangkal, pemilihan nama The BAPUK memang terdengar unik dan lucu jika diucapkan.
“Mengingat kata ‘bapuk’ dalam bahasa gaul biasa digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang usang, tak layak dan bisa jadi bentuk sindiran atau ungkapan kekecewaan terhadap sesuatu,” ungkap Pak RT atau M Doni Kurniawan, bassist sekaligus salah satu pendiri band.
Dalam rangka memperkenalkan diri kepada khalayak ramai, The BAPUK menggambarkan diri sebagai warga komplek yang berlagak nge-punk, dengan menyebut para personilnya dengan nama panggilan yang biasa terdengar di lingkungan masyarakat sehari-hari.
Pak RT (pemain Bass) dan Pak Bogang (pemain Gitar) sebagai pendiri The BAPUK ini mengajak warga lain yaitu Pak Tresno (pemain Drum), Lik Gan (pemain Gitar) dan Pak D (penyanyi).
Lebih lanjut, EP berisi enam lagu ini meramu tema keresahan, perjuangan, hingga semangat hidup kaum menengah ke bawah. Mulai dari curahan hati soal pengkhianatan, kerasnya hidup, sampai ajakan untuk sejenak berhenti dan berlibur dari rutinitas.
Baca juga: 12 Poin Tuntutan Rakyat untuk Pemerintah, Viral Dirangkum Salsa Erwina dari Kolom Komentar
“Aransemen musiknya pun sengaja dibalut dengan nuansa punk rock dan pop yang sederhana, agar pesannya bisa langsung terasa,” ujar Pak Bogang atau Windo Iskandar, gitaris sekaligus pendiri The BAPUK.
Dalam lagu ‘Terik Matahari’, misalnya, The BAPUK menggambarkan perjalanan seseorang yang melaju sendirian dengan motornya demi menemukan kembali kekuatan diri.
Sementara ‘Hajar Terus’ bercerita tentang semangat pekerja keras yang pantang menyerah meski dihajar keadaan.
Lagu berjudul ‘Menengah ke Bawah’ menjadi semacam curahan hati mereka yang belum mapan secara ekonomi, tetapi berusaha saling menguatkan agar tidak menyerah.
Keresahan hidup semakin nyata dalam lagu ‘Masih Gelap’ yang menyinggung susahnya mencari kerja di tengah kondisi yang serba sulit.
Sementara itu, ‘PISD’ mengisahkan pahitnya pengkhianatan cinta yang merenggut kebahagiaan. Sebagai penutup, ‘Liburan’ menghadirkan pesan sederhana namun relevan: ada kalanya tubuh dan pikiran perlu jeda, istirahat sejenak dari rutinitas untuk kembali segar.
Sebelum merilis EP, The BAPUK sudah sempat tampil di panggung bergengsi seperti Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-30 serta acara kolektif WAGGIGS Vol.5 di Milli by Shaggydog. Kehadiran mereka disambut hangat oleh penonton, yang kini akrab mereka sebut sebagai Para Warga.
Kini, Menengah ke Bawah Volume 1 sudah bisa didengarkan di seluruh digital streaming platform. Lewat karya ini, The BAPUK berharap bisa menjadi suara alternatif yang mewakili keresahan banyak orang, tanpa kehilangan semangat untuk terus melangkah.(nto)
Nuansa Pop Manis Atmojo Hidupkan Lagi Lagu Perlahan dan Sakau Ciptaan Andry Priyanta |
![]() |
---|
Pemberontakan Kecil Maya Nilam dalam Single Terbaru 'Gersang' |
![]() |
---|
Raw Theory Suarakan Luka Sejarah Lewat Lagu 'Karam' |
![]() |
---|
Model yang Kini Jadi Solois, Ayura Yosih Keluarkan Debut ‘Kembali’ |
![]() |
---|
DOMAPINE Perkenalkan ‘Lazzy Star’, Sebuah Pelukan Hangat di Hari-Hari Paling Malas |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.