Nuryadi Jadi Doktor Pertama Prodi Pendidikan Matematika UMBY
Gelar tersebut sekaligus menjadikan Nuryadi sebagai doktor pertama dari Program Studi Pendidikan Matematika UMBY.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
Ringkasan Berita:
- Nuryadi resmi meraih gelar doktor setelah menyelesaikan program Doktor Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Semarang (UNNES).
- Gelar tersebut sekaligus menjadikannya doktor pertama dari Program Studi Pendidikan Matematika UMBY.
- Nuryadi menyoroti minimnya kemampuan guru dalam mengidentifikasi ketercapaian aspek berpikir kritis siswa saat menyelesaikan soal matematika
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dosen Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Nuryadi, resmi meraih gelar doktor setelah menyelesaikan program Doktor Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Gelar tersebut sekaligus menjadikannya doktor pertama dari Program Studi Pendidikan Matematika UMBY.
Nuryadi mempertahankan disertasinya berjudul “Model Penilaian Reflective Critical Thinking Efficacy (RCTE) untuk Menganalisis Kemampuan Berpikir Kritis dan Self-efficacy pada Pembelajaran Matematika” dalam ujian tertutup yang digelar pada Rabu (3/12/2025) di Aula Gedung D.12 Lantai 3 FMIPA UNNES.
Dalam penelitiannya, Nuryadi menyoroti minimnya kemampuan guru dalam mengidentifikasi ketercapaian aspek berpikir kritis siswa saat menyelesaikan soal matematika.
Temuan itu mendorongnya mengembangkan model penilaian Reflective Critical Thinking Efficacy (RCTE).
Menurutnya, kemampuan berpikir kritis merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran matematika.
“Ketika diterapkan model Reflective Critical Thinking Efficacy (RCTE), diharapkan para siswa mampu memiliki kemampuan berpikir kritis karena berpikir kritis menjadi salah satu dimensi penting dalam Kurikulum Merdeka yang harus dikuasai,” ujar Nuryadi.
Ia menjelaskan, RCTE disusun sebagai instrumen yang dapat digunakan guru dalam penilaian formatif.
Model tersebut memiliki spesifikasi lengkap, mulai dari tujuan, karakteristik, komponen, instrumen pengukuran, hingga sintaks dan panduan pelaksanaan.
“Model penilaian RCTE dapat digunakan guru dalam melakukan penilaian formatif, karena memiliki spesifikasi mencakup dalam hal, (1) spesifikasi tujuan, karakteristik, komponen, instrumen, sintaks, dan panduan petunjuk pelaksanaan yang jelas, (2) adanya instrumen untuk mengukur kemampuan berpikir kritis yang ditinjau dari self-efficacy dan berpikir refleksi,” kata dia.
Baca juga: Status Bencana Nasional Belum Ditetapkan, PSBA UGM: Daerah Masih Mampu Menangani
Instrumen penilaian itu mencakup tujuh aspek kemampuan berpikir kritis — focus, reason, inference, situation, clarity, overview, dan reflection.
Untuk self-efficacy matematika, indikator yang diukur meliputi level, strength, dan generality. Adapun komponen berpikir reflektif dinilai melalui aspek reacting, compating, dan contemplating.
“Keunggulan dalam penerapan model penilaian RCTE ini dapat digunakan untuk mendeteksi kelemahan dan kekuatan siswa dalam pembelajaran matematika, sehingga para guru dapat memberikan umpan balik serta tindakan yang tepat bagi para siswa,” tegasnya.
Publikasi Q1 hingga Dua HKI
Nuryadi dinyatakan bebas dari ujian terbuka setelah memenuhi persyaratan publikasi ilmiah bereputasi.
| Rupiah Melemah, Ekonom UMBY Dorong Pemerintah Kuatkan UMKM dan Tidak Tergantung Impor |
|
|---|
| Minat Siswa Belajar Matematika Menurun, Pembelajaran Dinilai Masih Berorientasi pada Hafalan |
|
|---|
| Buka Program Doktor, Psikologi UMBY Jadikan UNAIR Rujukan Tata Kelola Akademik |
|
|---|
| Gelar Kompetisi Matematika Bertaraf Internasional, GDA Yogyakarta Ajak Siswa Bangun Persaingan Sehat |
|
|---|
| Dikukuhkan Jadi Guru Besar UMBY, Prof Rahma Ungkap Alasan Kenapa Banyak Anak SMA Salah Jurusan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Nuryadi-lulus-jadi-doktor-Matematika.jpg)