Mercedes W115 200, Elegansi Klasik yang Tak Pernah Padam

Satriyo, penyuka mobil klasik asal Yogyakarta ini menemukan kembali potongan masa kecilnya lewat Mercedes-Benz W115 seri 200 tahun 1971.

Penulis: Santo Ari | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja / Santo Ari
Penampilan Mercedes W115 200 

TRIBUNJOGJA.COM - Bagi sebagian orang, mobil klasik bukan sekadar kendaraan, melainkan kenangan yang hidup kembali di setiap detail logam dan aroma jok lamanya.

Begitu pula bagi Satriyo, penyuka mobil klasik asal Yogyakarta, yang menemukan kembali potongan masa kecilnya lewat sosok Mercedes-Benz W115 seri 200 tahun 1971.

Mobil bergaya kotak itu bukan hanya simbol keanggunan Jerman era 70-an, tapi juga bukti bahwa nostalgia bisa menjadi karya nyata bila dirawat dengan cinta dan ketekunan.

“Ketertarikan pada mobil klasik itu tidak bisa dipisahkan dari masa kecil, dari apa yang dulu kita lihat dan rasakan. Itu membekas sampai sekarang,” ujar Satriyo, yang mulai serius mengoleksi mobil klasik sejak lebih dari satu dekade lalu. 

Dari kenangan itu pula ia belajar bahwa keindahan mobil klasik bukan hanya pada bentuknya, tapi pada cerita yang tersimpan di balik setiap lekuk logam.

Mercedes W115 seri 200 yang ia miliki datang ke tangannya sekitar tahun 2012, dalam kondisi masih bahan. Mobil itu kemudian direstorasi total, mulai dari bodi, mesin, hingga pernik kecil di interior. 

“Waktu datang, kondisinya jauh dari layak jalan. Akhirnya kita cat ulang, cari aksesoris yang sesuai dan orisinil. Semuanya dikembalikan seperti bawaan pabrik,” katanya.

Proses restorasi tidak berhenti di tampilan luar. Satriyo bahkan mengubah transmisi manual bawaan menjadi otomatis, dengan perangkat asli dari Mercedes. Menurutnya, tantangan terbesar bukan di urusan mesin, melainkan dalam berburu aksesori orisinal. 

“Yang justru susah itu melengkapi aksesoris. Kadang lebih mahal daripada memperbaiki mesin,” ujarnya.

Ia pernah berburu ke berbagai komunitas, antar teman, hingga “jagal” mobil, bahkan kalau perlu sampai luar negeri.

Baginya, bagian paling berharga dari mobil klasik adalah detail yang membuatnya berbeda. Ia memperhatikan ulang tiap bagian interior seperti dashboard, instrumen, plafon, hingga kaca angin segitiga di pintu yang diputar pakai knop, fitur kecil yang kini nyaris punah di mobil modern. 

“Wiper di mobil ini bahkan bisa digerakkan pakai tuas di kaki. Semua fungsi itu saya hidupkan lagi,” tutur Satriyo.

Untuk keamanan, sistem kaki-kaki dan pengereman juga diremajakan. Semua diganti baru, termasuk per, shock breaker, dan karet-karet. Ia menganggap keselamatan tetap prioritas, meskipun tampilan mobil dibuat setia pada aslinya.

Satriyo percaya, mobil klasik tidak hanya soal hobi atau gaya, tapi juga investasi jangka panjang. 

“Mobil klasik bisa punya nilai tinggi selama dirawat. Tapi kalau restorasinya asal, atau salah pasang pernak-pernik, justru bisa menurunkan nilainya,” jelasnya. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved