Jujurlah Jangan Serakah
Situasi semakin memanas. Konflik kian kompleks.Eskalasi di Lebanon serta serangan strategis, menyasar fasilitas nuklir di Uni Emirat Arab (UEA).
Rakyat kecewa soal MBG, korupsi, kenaikan harga sembako, diskriminasi antara WNA dan WNI, kesenjangan kehidupan elite dan rakyat jelata, dan lain sebagainya.
Akankah esok hari, sesama anak bangsa semakin rukun ataukah tercerai-berai? Tak seorang pun mampu menjawab dengan pasti.
Para pakar maupun awam, sebatas menganalisis, membuat prediksi, dan sekaligus berharap. Hanya sebatas itu. Selebihnya, wait and see.
Sebenarnya, bagi orang-orang beriman, perihal kehidupan manusia - dari sejak individu, sosial-kebangsaan, hingga berbangsa-bangsa dalam skala global -telah tergambar dengan jelas pada kisah-kisah umat terdahulu.
Bila manusia (siapapun), mau dan bersungguh-sungguh belajar dari kisah-kisah itu, pastilah keberkahan hidup diperolehnya, dan sekaligus terjauhkan dari adzab.
Di dalam kisah-kisah tersebut telah diberikan, dicontohkan,dan dinasihatkan perihal kebenaran.
Benar dan wajib bagi setiap manusia, memelihara keseimbangan, keharmonisan, dan keberlanjutan kehidupan bersama.
Tiadalah dibenarkan, suatu bangsa angkuh, congkak, sok kuasa, kemudian memaksakan kehendaknya pada bangsa lain. Bila Israel-AS dan sekutunya, paham mengenai amanah sebagai kalifatullah itu, pastilah tidak akan melakukan agresi ke negara lain.
Permusuhan Zionis-Yahudi plus AS terhadap negara/kaum muslimin, tidak perlu terjadi. Justru, upaya saling mengenal, saling berbagi, dan saling melengkapi, menjadi aktivitas utama.
Pada realitas terkini, keteguhan sikap, pilihan pola bernegara, bermasyarakat, ber-amar-ma’ruf nahi munkar, yang dipraktikan bangsa Iran, dapat dijadikan sebagai teori bernegara paling gress dan unggul.
Sikap, keyakinan/akidah, kreativitas, dan progresivitas bangsa Iran, patut dijadikan sumber kajian akademik dan politis, untuk dikembangkan pada skala global.
Saatnya, teori-teori Barat, dikritisi, dan digantikan dengan teori Iranisme yang unggul itu.
Kiranya, siapapun (termasuk orang Indonesia) tak perlu malu, ragu, apalagi enggan belajar dari Iran. Kehebatan Iran dalam segala hal – militer, ekonomi, perdagangan, ilmu, teknologi, pembinaan mental-spiritual, rasa kebangsaan, dll. – layak dijadikan sumber pembelajaran.
Kemenangan dan keunggulan Iran atas Israel-AS, telah menjadi bukti nyata kebenaran wawasan, sikap, dan perilaku bangsa Iran, sekaligus kesesatan Israel-AS.
Selayaknya, Iran memperoleh tempat (terbaik) dalam kehidupan di muka bumi ini.
| Moralitas dan Keadilan dalam Perang |
|
|---|
| Negosiasi AS-Iran Gagal, Tema Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Persoalan Utama |
|
|---|
| Gencatan Senjata Iran-AS Terancam Bubar di Tengah Jalan, Ini Pemicunya |
|
|---|
| Iran Klaim Menang Perang, Mojtaba Khamenei: Kami Tidak Cari Perang, Tapi Siap Sampai Mati |
|
|---|
| Babak Baru Konflik Iran vs AS dan Israel, Sepakat Gencatan Senjata Setelah 39 Hari Berperang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Jujurlah-Jangan-Serakah.jpg)