Rusia dan China Protes terhadap Serangan AS dan Israel ke Iran

Rusia dan China melakukan protes diplomatik terhadap serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran.

Tayang:
Penulis: Joko Widiyarso | Editor: Joko Widiyarso
AFP via BBC
CHINA-RUSIA PROTES AS-ISRAEL - Presiden China Xi Jinping ketika berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin saat berkunjung ke Moskwa pada Rabu (5/6/2019). Rusia dan China melakukan protes diplomatik terhadap serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran. 

Israel dianggap sebagai satu-satunya negara bersenjata nuklir di kawasan Timur Tengah, yang mana hal tersebut tidak dikonfirmasi maupun disangkal oleh Israel.

“Tujuan mulia yang tampaknya paradoks, yaitu memulai perang untuk mencegah proliferasi senjata nuklir, justru dapat memicu tren yang sepenuhnya berlawanan,” katanya.

Iran belum terbukti kembangkan nuklir

Lavrov, yang mengatakan bahwa Moskow masih belum melihat bukti bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir, berbicara dengan Abbas Araghchi, pada hari Selasa.

Menurutnya, Rusia siap membantu menemukan solusi diplomatik untuk konflik tersebut, sambil menolak penggunaan agresi militer oleh AS dan Israel di kawasan itu.

Saat AS dan Israel melancarkan serangan pertama mereka ke Iran pada hari Sabtu, Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh sekutu dekat tersebut melakukan tindakan agresi bersenjata yang direncanakan dan tanpa provokasi terhadap negara anggota PBB yang berdaulat dan independen.

“Kedua negara tersebut menyembunyikan niat sebenarnya untuk menggulingkan rezim di Teheran dengan kedok negosiasi untuk menormalisasi hubungan dengan Iran,” kata kementerian itu.

Kementerian tersebut memperingatkan bahwa AS dan Israel dengan cepat mendorong kawasan itu menuju bencana kemanusiaan, ekonomi, dan bahkan potensi bencana radiologis.

“Tanggung jawab atas konsekuensi negatif dari krisis buatan manusia ini, termasuk reaksi berantai yang tak terduga dan meningkatnya kekerasan, sepenuhnya berada di pundak mereka,” tambah pernyataan itu.

Rusia sendiri menghadapi tuduhan agresi terhadap negara berdaulat setelah melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina, sebuah perang yang kini memasuki tahun kelima.

Pengganti Khamenei sudah ditunjuk

Di sisi lain, Majelis Pakar Iran, di bawah tekanan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pada hari Selasa, memilih putranya, Mojtaba Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi berikutnya, menurut Iran International

Keputusan tersebut belum diumumkan secara publik dan diperkirakan akan diumumkan setelah Ali Khamenei dimakamkan.

Ini bukanlah suksesi rutin. Ini adalah keputusan masa perang yang dibentuk oleh negara keamanan, dan hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang prosedur konstitusional. 

Prioritasnya tampaknya adalah kecepatan dan kontrol, karena Iran menghadapi serangan dari luar dan kekosongan kepemimpinan di puncak.

Mengapa IRGC dukung Mojtaba?

IRGC membutuhkan dua hal sekaligus: kendali dan legitimasi.

Pengendalian berarti menjaga rantai komando tetap utuh, mencegah perpecahan di tingkat atas, menjaga koordinasi pasukan keamanan, dan menghentikan perebutan kekuasaan. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved