Pembicaraan Temui Jalan Buntu, Warga AS Diminta Tinggalkan Iran
Perundingan antara AS dan Iran terkait masa depan program nuklir Teheran berakhir tanpa kesepakatan
Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, WASHINGTON DC - Perundingan antara AS dan Iran terkait masa depan program nuklir Teheran berakhir tanpa kesepakatan pada Kamis (26/2/2026) waktu setempat.
Meski kedua pihak mengeklaim ada kemajuan, belum terlihat tanda-tanda kompromi atas isu paling mendasar.
Situasi tersebut membuat ancaman konflik terbuka semakin menguat.
Kebuntuan ini terjadi di tengah pertimbangan Gedung Putih untuk melancarkan operasi militer.
Bila betul terealisasi, serangan di Iran bisa menjadi intervensi terbesar Washington di Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.
Tanda-tanda AS akan melakukan serangan militer ke Iran pun mulai menguat.
Salah satunya dengan adanya permintaan dari Pemerintah AS kepada warganya untuk segera meninggalkan Iran.
Permintaan itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio.
Kemudian juga melarang warga AS untuk pergi melakukan perjalanan ke Iran
"Tidak ada warga Amerika yang boleh bepergian ke Iran dengan alasan apa pun. Kami kembali menyerukan agar warga Amerika yang saat ini berada di Iran untuk segera pergi," kata Rubio dikutip dari Kompas.com.Rubio menambahkan, dirinya menetapkan Iran sebagai Negara Pendukung Penahanan yang Tidak Sah menyusul perintah eksekutif dari Presiden AS Donald Trump.
Baca juga: Keras! Prof Anhar Minta Pemerintah Cabut Kewarganegaraan Dwi Sasetyaningtyas
"Presiden Trump mengeluarkan Perintah Eksekutif untuk Melindungi Warga Negara AS dari Penahanan yang Tidak Sah di Luar Negeri pada musim gugur lalu, serta Kongres telah mengesahkan UU Pemberantasan Penahanan yang Tidak Sah tahun 2025, yang memberi wewenang kepada Departemen untuk menetapkan Iran sebagai Negara Pendukung Penahanan yang Tidak Sah," paparnya.
"Jika Iran tidak berhenti, kami terpaksa akan mempertimbangkan langkah-langkah tambahan, termasuk rencana pembatasan perjalanan geografis pada penggunaan paspor AS ke, melalui, atau dari Iran," sambung Rubio.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, negaranya membuka semua opsi dalam pendekatannya terhadap Iran, serta mendesak negara itu untuk bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan.
Berbicara kepada wartawan saat kunjungan ke Colorado, pada Senin (23/2/2026) Hegseth menegaskan kembali bahwa Trump lebih memilih solusi diplomatik.
Akan tetapi, dia menekankan bahwa militer AS telah siap dengan rencana darurat jika Iran menolak mencapai kesepakatan.
| Syarat Teheran untuk Washington: Hentikan Blokade Laut Jika Ingin Dialog Damai Berlanjut |
|
|---|
| Dua Kapal Asing Disita, Militer Iran: Jangan Coba-coba Ganggu Keamanan Selat Hormuz |
|
|---|
| Moralitas dan Keadilan dalam Perang |
|
|---|
| Trump Berubah Pikiran: Gencatan Senjata AS-Iran Diperpanjang di Menit Terakhir |
|
|---|
| IRGC : Kami Punya Senjata Rahasia yang Tak Terbayangkan oleh AS dan Israel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Donald-Trump-Presiden-Amerika-Serikat-resmi-membentuk-Dewan-Perdamaian-Gaza.jpg)