Ketegangan Iran dan AS Meruncing, IRGC Siaga Penuh

IRGC sebagai pasukan khusus Iran saat ini dalam posisi siap  untuk merespon segala serangan yang dilancarkan AS.

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
khamenei.ir
ALI KHAMENEI NUKLIR - Ayatollah Ali Khamenei, bertemu dengan keluarga Martir Keamanan di husayniyya Imam Khomeini pada Minggu (27/10/2024). Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) terkait program nuklir Iran tidak akan membawa manfaat 

Penilaian ini diperkuat oleh pernyataan seorang pejabat militer Barat yang identitasnya dirahasiakan.

Ia mengatakan bahwa berbagai indikator tempur mulai dari pergerakan logistik, kesiapan pasukan, hingga koordinasi sekutu menunjukkan kemungkinan serangan Amerika Serikat sudah berada di depan mata.

Meski demikian, sumber lain mengingatkan bahwa dinamika kebijakan luar negeri AS di bawah Presiden Donald Trump kerap diwarnai ketidakpastian strategis.

Karakter kepemimpinan Trump yang sering mengkombinasikan tekanan militer dengan manuver politik mendadak membuat arah kebijakan sulit diprediksi secara pasti, termasuk apakah ancaman militer akan benar-benar diwujudkan atau digunakan sebagai alat tekanan diplomatik.

Baca juga: Ayah Pendaki Magelang Gugur di Gunung Slamet: Dibalik Duka Ada Hikmah  

Kondisi tersebut semakin memperuncing ketegangan regional, mendorong Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meningkatkan status kewaspadaan.

Sementara itu kondisi di Iran masih diwarnai dengan aksi unjukrasa besar-besaran.

Ribuan warga Iran turun ke jalan karena memburuknya ekonomi dan penurunan mata uang Rial.

Demo yang berlangsung sejak akhir Desember 2025 awalnya berjalan dengan kondusif hingga akhirnya massa mulai yang tak puas dengan respon pemerintah mulai meningkatkan aksi hingga menyebabkan ribuan penangkapan dan korban tewas tembus 2.500 jiwa.

Pasca ketegangan meningkat, Washington memberi dukungan moral kepada demonstran dan memperingatkan kemungkinan intervensi jika pemerintah Iran terus melakukan tindakan kekerasan.

Namun, pemerintah Iran menolak keras dukungan Amerika Serikat dan melihatnya sebagai bentuk campur tangan langsung dalam urusan dalam negeri.

Otoritas Teheran menuduh Washington dan sekutunya, termasuk Israel, berusaha mengubah protes yang dimotivasi oleh masalah domestik menjadi kekacauan yang dapat melemahkan pemerintah Iran.

Menurut pernyataan pejabat Iran, dukungan AS terhadap demonstran merupakan upaya memanfaatkan ketidakpuasan rakyat Iran untuk tujuan politik luar negeri yang lebih luas.

Bahkan dianggap sebagai bentuk agresi psikologis dan politik yang melanggar kedaulatan nasional.

Netanyahu Minta Trump Tahan Diri

Di tengah meningkatnya ancaman konflik terbuka di Timur Tengah, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menahan diri dan menunda rencana serangan militer terhadap Iran.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved