Ketegangan Iran dan AS Meruncing, IRGC Siaga Penuh

IRGC sebagai pasukan khusus Iran saat ini dalam posisi siap  untuk merespon segala serangan yang dilancarkan AS.

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
khamenei.ir
ALI KHAMENEI NUKLIR - Ayatollah Ali Khamenei, bertemu dengan keluarga Martir Keamanan di husayniyya Imam Khomeini pada Minggu (27/10/2024). Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) terkait program nuklir Iran tidak akan membawa manfaat 

TRIBUNJOGJA.COM, TEHERAN - Iran menegaskan negaranya siap untuk berperang melawan Amerika Serikat.

Saat ini militer Iran dalam posisi siaga penuh untuk mengantisipasi serangan dari AS.

Pernyataan itu ditegaskan oleh Komandan IRGC Mohammad Pakpour dalam pernyataan tertulis yang dikutip televisi pemerintah Iran.

Menurut Pakpour, IRGC sebagai pasukan khusus Iran saat ini dalam posisi siap  untuk merespon segala serangan yang dilancarkan AS.

“IRGC berada dalam kesiapan penuh untuk menanggapi secara tegas kesalahan perhitungan musuh,” tegas Pakpour, sembari menyebut Trump dan Netanyahu sebagai “pembunuh pemuda Iran”.

Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Korps Pengawal Revolusi Islam adalah kekuatan militer dan keamanan elite Iran yang dibentuk pada tahun 1979 setelah Revolusi Islam.

Tujuan utamanya adalah melindungi sistem pemerintahan Islam dan ideologi revolusi.

IRGC berada langsung di bawah kendali Pemimpin Tertinggi Iran, terpisah dari militer reguler, dan memiliki unit darat, laut, udara, serta milisi Basij untuk keamanan dalam negeri.

Selain peran domestik, IRGC juga aktif di luar negeri melalui Quds Force, yang mendukung kelompok dan sekutu Iran di Timur Tengah.

Organisasi ini memiliki pengaruh besar dalam politik dan ekonomi Iran, mengelola berbagai bisnis dan proyek strategis.

Karena aktivitas militernya dan dukungan terhadap kelompok bersenjata, IRGC dianggap kontroversial dan telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh beberapa negara, termasuk Amerika Serikat.

Di sisi lain, AS menarik sebagian pasukannya dari  Pangkalan Udara al-Udeid di Qatar pada Rabu (14/1/2026).

Penarikan personel militer dari Qatar tersebut dikonfirmasi langsung oleh salah satu pejabat AS.

Pejabat tersebut menyebut langkah itu sebagai tindakan pencegahan untuk melindungi personel di tengah meningkatnya risiko keamanan.

Namun, sejumlah analis dan pengamat militer menilai penarikan terbatas tersebut justru dapat dibaca sebagai indikator meningkatnya kesiapan militer AS, bukan semata-mata langkah defensif.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved