Makan Bergizi Gratis

Mengintip Program Makan Sekolah Gratis di Negara-negara Ini, Apa Tantangannya?

Sejumlah negara lain seperti Malaysia, Kenya, Brasil, dan Prancis juga menggelar program serupa dengan tantangan masing-masing.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Bunga Kartikasari
KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah
MAKAN BERGIZI GRATIS : siswa TK dan SD di Kecamatan Rancaekek tengah menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) beberapa waktu lalu 

TRIBUNJOGJA.COM – Program makan bergizi gratis (MBG) di Indonesia belakangan jadi sorotan usai muncul kasus keracunan massal. 

Padahal, inisiatif memberi makan siswa sekolah bukan hal baru. Sejumlah negara lain seperti Malaysia, Kenya, Brasil, dan Prancis juga menggelar program serupa dengan tantangan masing-masing.

1. Kenya: Misi Menghapus Rasa Malu karena Kelaparan

Kenya meluncurkan program makan sekolah terbesar di Afrika sejak 2023, menargetkan 4 juta murid mulai dari Nairobi.

“Kita harus menghapus rasa malu karena kelaparan di negara kita… penghinaan terbesar adalah anak-anak kita pergi ke sekolah dan berpuasa karena tidak ada makanan," ungap Presiden William Ruto kala itu dalam The Guardian, 22/6/2023.

Pemerintah menggelontorkan dana 5 miliar shilling Kenya (Rp 576 miliar). Lewat sistem gelang prabayar “Tap2Eat”, orangtua hanya membayar Rp 1.200 per porsi, sementara pemerintah menambahkan Rp 4.000. 

Program ini meringankan beban keluarga miskin sekaligus membuka ribuan lapangan kerja. Namun, pemerataan di wilayah pedesaan masih menjadi tantangan utama karena keterbatasan dapur, logistik, dan tenaga kerja.

Baca juga: Hasil Lab Kasus Keracunan MBG MTsN Wonosari, BLKK Yogyakarta Temukan 5 Jenis Bakteri

2. Malaysia: Anggaran Besar, Kualitas Menu Dipertanyakan

Malaysia menjalankan Rancangan Makanan Tambahan (RMT) dengan target siswa SD dari keluarga miskin. Pada 2025, anggaran program ini mencapai RM 869 juta atau sekitar Rp 4,3 triliun. Menu harian dilengkapi susu untuk mencegah stunting dan malnutrisi.

Namun, hasil evaluasi menemukan kualitas makanan belum konsisten. Kantin masih banyak menyajikan nugget, sosis, hingga minuman bergula. 

Minimnya pelatihan gizi bagi guru dan pengelola kantin membuat menu lebih menekankan harga murah dan kebersihan daripada nutrisi seimbang. 

Program ini pun hanya menyasar siswa SD, sementara angka obesitas remaja sudah mencapai 27 persen dan stunting 15 persen.

3. Brasil: Perkuat Petani Kecil dan Menu Lokal

Brasil menjalankan Program Nasional Pemberian Makan Sekolah (PNAE) sejak 1955, kini menjangkau 40 juta siswa di lebih dari 150 ribu sekolah. 

Anggaran 2024 mencapai 5,5 miliar Real Brasil (Rp 18,1 triliun), dengan kewajiban 30 persen belanja berasal dari pertanian keluarga.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved