Puisi

15 Contoh Puisi Hari Ibu 22 Desember yang Menyentuh Hati dan Penuh Makna

Di Indonesia, Hari Ibu ditetapkan pada tanggal 22 Desember melalui keputusan Kongres Perempuan Indonesia pertama pada tahun 1928.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
Pinterest
Ilustrasi : 15 Contoh Puisi Hari Ibu 22 Desember yang Menyentuh Hati dan Penuh Makna 

10. Selamat Hari Ibu

Hari ini dunia menuliskan namamu,
padahal setiap hari kaulah alasan
aku terus belajar bernapas.

Perempuan terkuat yang pernah kutemui
tidak pernah membutuhkan panggung.
Kau hadir sebagai ritme, diam, namun pasti.
Selamat Hari Ibu,
untuk cinta yang mengajari kami
bahwa kata-kata tidak perlu keras
untuk membuat hati luluh.

11. Mata yang Selalu Menjaga

Di matamu, Ibu, aku menemukan langit
yang tidak pernah mengusir mendungku.
Kau tidak banyak bicara,
tapi sorotmu menjaga kecemasanku tetap jinak.

Jika suatu hari aku hilang kendali,
tatapanmulah yang menjadi pagar terakhir.
Kau mengajarkan bahwa menjaga
adalah bentuk cinta paling sederhana
yang bisa membuat seseorang bertahan.

12. Tangannya yang Tidak Pernah Diam

Tanganmu merapikan hidup kami
mengangkat piring, mencuci luka,
menyikat debu yang tidak kasatmata.

Kau bekerja seperti waktu,
bergerak maju tanpa jeda.
Jika pahala memiliki bentuk,
maka ia mungkin menyerupai dua tanganmu
yang berdoa dalam senyap.

13. Perjalanan Bernama Ibu

Setiap perjalanan butuh perhentian,
dan engkaulah tempat aku mengembalikan napas.
Meski aku datang terlambat
dan membawa badai dari luar,
kau tetap menerima bagai mimbar yang lapang.

Terima kasih telah menjadi jalan pulang
bukan karena aku pantas,
tetapi karena cintamu tidak mengenal hitungan.

14. Waktu yang Tak Bisa Dibeli

Kau tidak menukar mahalnya waktu
dengan permintaan.
Kau hanya ingin kami tumbuh,
itulah investasi yang kau tanam
tanpa perlu kuitansi.

Semoga hari ini semesta mencatat
jam-jam yang kau lepaskan
hanya demi melihat kami berdiri.

15. Ibu, Pagi Pertamaku

Sebelum aku mengenal dunia,
aku mengenal dekapmu.
Sebelum aku tahu kata keberanian,
kaulah yang meniupkannya ke tenggorokanku.

Kau adalah pagi pertamaku
dan alasan aku ingin pulang
meski malam sudah memanggil.
Jika hidup adalah lingkaran panjang,
kaulah titik awal yang tidak ingin kutinggalkan. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved