Puisi

15 Contoh Puisi Hari Ibu 22 Desember yang Menyentuh Hati dan Penuh Makna

Di Indonesia, Hari Ibu ditetapkan pada tanggal 22 Desember melalui keputusan Kongres Perempuan Indonesia pertama pada tahun 1928.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
Pinterest
Ilustrasi : 15 Contoh Puisi Hari Ibu 22 Desember yang Menyentuh Hati dan Penuh Makna 

Kau hanya menarikku lebih dekat,
seolah berkata bahwa semua badai berumur pendek.
Kadang aku tidak perlu bicara,
karena lenganku paham bahasa yang ditawarkan bahumu.

Jika semua orang memintaku terus berlari,
kaulah satu-satunya yang membiarkanku berhenti.
Kau biarkan aku menjadi anak kecil lagi,
meski tubuhku sudah terlalu dewasa untuk disuapi tenang.

3. Perempuan yang Menunda Mimpinya

Ada mimpi yang sempat kau simpan
di antara lipatan sarung dan cucian yang menumpuk.
Ada cita-cita yang kau gantung
di balik kening yang mengalah untuk keluarga.

Tidak ada sorak-sorai bagi perempuan bernama ibu,
bahkan ketika ia memenangkan hari-hari tersulitnya.
Kau menua tanpa jeda,
tapi cintamu tetap hijau sepanjang usia.

Jika aku berdiri tegak hari ini,
itu karena kau rela membungkuk ratusan kali.
Ibu, semoga sisa usiamu
diisi mereka yang tidak mengabaikan pengorbananmu.

4. Di Balik Kalimat “Tak Apa”

Kalimatmu pendek, nadanya pelan
namun menyimpan beban yang melelahkan tulang.
“Tak apa-apa, Ibu kuat,” katamu,
padahal ku tahu ada ketakutan
yang bersembunyi di bawah bantal setiap malam.

Air matamu tidak pernah meminta saksi,
kau biarkan ia kering bersama angin dapur.
Maafkan kami yang terlalu sering lupa,
bahwa hatimu tidak sekeras yang kau bayangkan.

Terima kasih sudah tetap tersenyum,
walau dunia tidak memberikan panggung
untuk keluhanmu meletakkan kepalanya.

5. Rumah Bernama Ibu

Aku telah mengunjungi banyak tempat, Ibu,
menyentuh sudut kota yang tidak menahanku pulang.
Namun rumah selalu kembali menjadi suaramu
suara yang menanyakan makan,
yang memeriksa badai di mataku.

Tidak ada arsitektur yang mampu mengganti
sentuhan pelan di rambutku.
Jika suatu hari aku jatuh dalam kesalahan,
kaulah alamat pertama yang mau menerimaku kembali.

Rumah bisa runtuh,
atap bisa berlubang,
namun engkau tetap berdiri
benteng yang mengizinkanku beristirahat.

6. Terima Kasih yang Tak Pernah Cukup

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved