mural kritikan

Suporter Duga Mural Kritik Korupsi Stadion Mandala Krida Dihapus Selektif

Aksi mural serentak yang diinisiasi suporter PSIM Yogyakarta untuk menyuarakan kepedulian terhadap Stadion Mandala Krida mulai menuai respons. 

Tayang:
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/Dok. Suporter PSIM Yogyakarta
MURAL - Penampakan mural Usut Tuntas Korupsi Mandala sebelum ditimpa dengan cat hitam di kawasan Perempatan Ketandan, Malioboro, Yogyakarta. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA -  Aksi mural serentak yang diinisiasi suporter PSIM Yogyakarta untuk menyuarakan kepedulian terhadap Stadion Mandala Krida mulai menuai respons. 

Salah satu mural bertuliskan “Usut Tuntas Korupsi Mandala” di kawasan Perempatan Ketandan, Malioboro, Yogyakarta diketahui telah ditimpa menggunakan cat hitam.

Menariknya, penghapusan dilakukan secara selektif. 

Tulisan kritik tersebut ditutupi, sementara mural bertuliskan “PSIM Jogja” yang berada pada dinding yang sama tetap dibiarkan utuh.

Aktivis antikorupsi dari Jogja Corruption Watch (JCW), Baharuddin Kamba, menilai mural merupakan bentuk ekspresi dan kritik masyarakat yang tidak perlu dikhawatirkan. 

Menurutnya, mural tersebut menjadi sarana menyampaikan keresahan publik, termasuk suporter sepak bola, terkait belum tuntasnya kasus dugaan korupsi renovasi Stadion Mandala Krida.

“Lagi pula mural-mural yang dibuat oleh para seniman termasuk para suporter sepak bola bukanlah tindakan kriminal seperti halnya yang dilakukan oleh sejumlah oknum para pejabat yang menggarong uang rakyat melalui proyek Makan Bergizi Gratis (MBG),” ujarnya, Selasa (9/6/2026).

“Itu agar Stadion Mandala Krida dapat segera digunakan sebagaimana mestinya,” tambahnya.

Sementara, Perwakilan Guyub Seni (GS) Mataram, Wage, membenarkan adanya penghapusan mural tersebut. Penghapusan dilakukan pada akhir pekan lalu.

Ia menilai tindakan itu janggal karena sejak awal pihak suporter telah berkoordinasi dan memperoleh izin dari pemilik bangunan sebelum melukis mural di tembok bangunannya.

Menurut Wage, GS Mataram juga berkoordinasi dengan sejumlah kelompok suporter yang terlibat dalam aksi mural, seperti Blue Dragon Troops, Bantul Bois, Captains Tendean, Depok Boys, Jogja Dirty Bois, KS Tubun, dan Ledt Ground. 

Namun, hingga kini belum diketahui siapa yang menghapus tulisan tersebut.

“Intinya mereka sudah berkoordinasi dengan warga sekitar dan pemilik lahan. 

Namun setelah dihapus, muncul pertanyaan. Ternyata ada semacam ketakutan dari pemilik tembok,” ujarnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved