Misteri Api di Rumah Warga Sleman
Penelitian Resmi Ditutup, Tim Ahli UPN dan UGM Pastikan 'Teror Api' Seyegan Bukan Fenomena Alam
Kesimpulannya tidak ada faktor geologi maupun fenomena alam secara alami yang memicu terjadinya kebakaran berulang tersebut.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Fenomena "teror api" misterius yang melanda rumah Agusyani di Dusun Kasuran, Margomulyo, Seyegan Kabupaten Sleman menemui titik terang baru, dari sudut pandang ilmiah.
Dua tim ahli dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada (UGM) telah resmi menutup penelitian mereka dengan kesimpulan tidak ada faktor geologi maupun fenomena alam secara alami yang memicu terjadinya kebakaran berulang tersebut.
Baca juga: Penyelidikan Teror Api di Seyegan Diserahkan ke Polisi, Kesimpulan Para Ahli: Bukan karena Gas Alam
Gelembung gas X fenomena kebakaran
Ketua Tim Fakultas Teknologi Mineral Energi UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Basuki Rahmad menyampaikan, gelembung gas yang ditemukan di Sungai Nepen, - berjarak sekira 250 meter di belakang rumah Agusyani,- tidak ada hubungan sama sekali dengan terjadinya fenomena kebakaran berulang. Kesimpulan ini sekaligus menutup penelitian yang dilakukan UPN.
"Sekali lagi, kami tidak menemukan hubungan antara gelembung gas di Sungai Nepen dengan rumah yang terbakar. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kami menyampaikan kepada teman-teman media bahwa Fakultas Teknologi Mineral Energi UPN Veteran Yogyakarta resmi menutup penelitian ini," ujar Prof. Basuki, usai pertemuan para ahli di Kantor Bupati Sleman, Senin (15/6/2026).
Dijelaskan Basuki, berdasarkan pengamatan geologi permukaan untuk melihat pengelompokan batuan, UPN memang menemukan indikasi batu lempung gelap yang diduga kuat sebagai batuan induk (source rock) dari gas rawa di dekat sungai, lengkap dengan gelembung gas bertekanan kencang. Hal itu diduga sebagai gas rawa. Namun,setelah diuji langsung di lapangan, gas tersebut terbukti tidak mau menyala saat disulut api.
Dari data geologi permukaan, UPN juga menemukan beberapa patahan yang secara awal mengarah dari timur laut ke barat daya (northeast - southwest). Patahan tersebut telah divalidasi dengan metode subsurface atau bawah permukaan menggunakan geolistrik dan geomagnet untuk mengetahui lapisan batuan di bawah permukaan di sekitar rumah Agusyani.
Metode ini dapat mendeteksi adanya pertemuan dua jalur patahan bumi yakni patahan utama (first order) dan patahan cabang (secondary order) yang mengarah tepat di bawah lantai rumah Agusyani yang membentuk struktur retakan batuan porous. Artinya, di bawah rumah tersebut memang banyak retakan.
"Terus bagaimana dengan hubungan gasnya?. Nah kami lakukan analisis, setelah kami menganalisis data geologi permukaan dan geofisika, kami mengerucut pada satu kesimpulan. Kami menyimpulkan, kami tidak menemukan hubungan antara rumah yang terbakar dengan gelembung gas yang ditemukan di Sungai Nepen, yang berjarak 250 meter tersebut. Ini jadi kesimpulan akhir," katanya.
Residu Resin X tidak ada anomali pemicu api
Senada dengan temuan UPN, Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) UGM juga mematahkan dugaan adanya self-ignition atau pembakaran spontan akibat faktor alam. Dosen sekaligus Asisten Profesor Departemen Teknik Geologi UGM, Sarju Winardi mengatakan seluruh rangkaian uji geolistrik, termal, elektromagnetik, hingga elektro-statik menunjukkan hasil tidak ada anomali yang bisa memicu api secara alami.
"Begitu pula dengan kandungan gas, tidak ada anomali yang dapat memicu kebakaran. Itu sama sekali tidak ada," kata Sarju.
Titik terang baru justru muncul saat tim melakukan uji laboratorium terhadap residu di lokasi kejadian. Pihaknya mengaku dua kali mengambil sampel. Jika pengujian sampel awal pada barang-barang yang hangus terbakar hanya memunculkan kandungan abu dan gas karbon dioksida (CO-2), uji laboratorium menggunakan metode FTIR pada permukaan dinding rumah justru menemukan ada material yang mudah terbakar.
Material ini, setelah diselidiki berasal dari resin yang di dalamnya mengandung Poly Vinyl Chloride (PVC). Material resin inilah yang diduga menjadi bahan yang mudah terbakar. Akan tetapi, UGM tidak memiliki data bagaimana mekanisme terbakarnya resin ini sehingga menyerahkan sepenuhnya hasil temuan tersebut kepada BPBD untuk ditindaklanjuti.
"Dengan demikian, dari UGM sudah menyimpulkan bahwa tidak ada fenomena alami yang menyebabkan munculnya api tersebut.
Sehingga, nantinya diperlukan penyelidikan lebih lanjut dari pihak BPBD untuk menindaklanjuti apa yang kami temukan. Kami memastikan bahwa tim UGM sudah menyelesaikan tugas penyelidikan terkait kebakaran di rumah Bapak Agusyani Seyegan," kata Sarju.(*)
| Penyelidikan Teror Api di Seyegan Diserahkan ke Polisi, Kesimpulan Para Ahli: Bukan karena Gas Alam |
|
|---|
| Misteri Pemantik Api di Seyegan: UGM Temukan Bahan Mudah Terbakar, BPBD Sleman Masih 'Wait and See' |
|
|---|
| BPBD Sleman Masih Tunggu Rekomendasi Peneliti Lain Soal Fenomena Kebakaran Misterius di Seyegan |
|
|---|
| Hasil Penelitian Terbaru Kasus Fenomena Api Misterius di Seyegan Sleman, Ini Kesimpulan Tim UGM |
|
|---|
| Penyebab Api Seyegan Belum Terungkap, Status Tanggap Darurat Tunggu Kajian Ahli |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Penelitian-Resmi-Ditutup-Tim-Ahli-UPN-dan-UGM-Pastikan-Teror-Api-Seyegan-Bukan-Fenomena-Alam.jpg)