Wawancara Eksklusif: Kupas Tuntas ‘Bantul Bumi Satriya’ Bersama Kang Halim

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, bicara sisi budaya, penyangga lingkungan hidup, kesenian, potensi kebencanaan, hingga potensi ekspor Bantul

Tayang: | Diperbarui:
Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana
WAWANCARA - Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih (kiri), sedang berbincang bersama Pemimpin Redaksi Tribun Jogja, Ibnu Taufik Juwariyanto (kanan), di Rumah Dinas Bupati Bantul, Jumat (11/6/2026). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, baru-baru ini menyampaikan kondisi keadaan Bumi Projotamansari mulai dari sisi budaya, penyangga lingkungan hidup, kesenian, potensi kebencanaan, hingga potensi ekspor.

Hal itu disampaikan Halim dalam wawancara eksklusif dengan Pemimpin Redaksi Tribun Jogja, Ibnu Taufik Juwariyanto, di Rumah Dinas Bupati Bantul.

Pria yang kerap disapa Kang Halim ini menyampaikan bahwa Kabupaten Bantul adalah daerah yang sangat unik, luar biasa dan tidak dimiliki oleh daerah lain sebagai pintu gerbang Daerah Keistimewaan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pasalnya, berdasarkan catatan sejarah, Panembahan Senopati pertama kali membangun keratonnya di Kotagede, Kalurahan Jagalan, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul. 

"Sultan sendiri juga menyatakan bahwa Bantul adalah pintu gerbang budaya Keistimewaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Di samping Panembahan Senopati membuka keraton pertama di Bantul, kemudian Sultan yang sangat terkenal yakni Sultan Agung juga membangun keraton di daerah Pleret," ucapnya, Jumat (14/6/2026) pagi.

Bumi Satriya

Para Raja Mataram pun telah memilih Bumi Projotamansari sebagai tempat peristirahatan terakhir, yaitu di Pajimatan Imogiri dan Makam Raja Kotagede atau Jagalan. 

Nilai-nilai sejarah itu membuat Bantul memiliki tanggung jawab besar untuk memelihara marwah atau melestarikan peninggalan para satria mataram terdahulu.

Menariknya, sejak tahun 2025 terdapat diskusi yang panjang berani memunculkan satu brand terbaru yakni Bantul Bumi Satriya.

Artinya, di Bantul ini lahir dan berjuang para satria Mataram, Sultan Agung hingga Pangeran Diponegoro yang menjadikan Bantul sebagai markas perlawanan Belanda. 

"Pasukan Sultan Agung dan Diponegoro paling banyak juga berasal dari Kabupaten Bantul. Bumi Satriya itu bukan hanya Sultan Agung maupun Pangeran Diponegoro seorang diri, melainkan rakyatnya. Maka, Bantul ini pantas dan layak untuk disebut Bumi Prasatriya. Lahirnya kebudayaan Mataram di sini berjuang dan bersemayam banyak satriya yang melawan Belanda," terang Kang Halim.

Baca juga: Sekda Bantul Imbau Seluruh Satuan Pendidikan Jangan Lakukan Pungutan kepada Siswa dan Wali Murid

Penyangga Lingkungan Hidup DIY

Kang Halim juga berujar bahwa Bantul sebagai daerah penyangga lingkungan hidup.

Hal itu karena Bantul tidak hanya menopang sampah dari Kabupaten Bantul sendiri, melainkan juga dari Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta.

Sampah dari tiga regional tersebut diolah di Kapanewon Piyungan dan beberapa tempat di Kabupaten Bantul.

"Kemudian, limbah dari Sleman, dari Kota Yogya, dan di luar itu ada beberapa yang juga diolah di Bantul yakni di IPAL Komunal Sewon. Kemudian, seluruh aliran sungai yang ada di DIY berhilir dan bermuara di Kabupaten Bantul. Tentu saja, Bantul ini punya beban untuk menyangga lingkungan hidup DIY," katanya.

Tidak hanya itu, Halim turut mengungkap bahwa pengusaha sedot water closet (WC) dari Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, dan Kota Yogyakarta tetap membuang limbahnya ke Kabupaten Bantul.

Pasalnya, dari tiga wilayah tersebut hanya Bantul yang memiliki IPAL.

Kota Seni

Menurutnya, tidak ada daerah yang memiliki jenjang pendidikan seni selengkap Kabupaten Bantul.

Bantul memiliki tiga sekolah menengah seni berupa seni karawitan, pedalangan, tari, kriya, hingga musik klasik.

Selain itu, terdapat seorang musisi muda yang menyabet juara empat dalam ajang America's Got Talent tahun 2023 yakni Putri Ariani. 

Di samping itu, setidaknya ada sekitar 61 kampus yang berdiri di Bumi Projotamansari.

Status kampus tersebut bermacam-macam mulai dari universitas, sekolah tinggi, institut, hingga akademi.

Jumlah itu dinilai terbanyak di DIY, sehingga sudah sepatutnya digadang-gadang Bantul Kota Pelajar.

"Tidak hanya banyak kampus saja, tetapi sekolah seni. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pun sudah paling lengkap. Saya kira tidak ada daerah selengkap Bantul di dalam memberikan pelajaran seni. Di atas SMK ada akademi seni komunitas di Jalan Parangtritis, di atasnya lagi ada Institut Seni Indonesia (ISI). Itu sekolah seni paling lengkap," ujar Kang Halim.

Baca juga: Sebanyak 18 SPPG di Bantul Berhenti Operasional, Pemkab Ungkap Penyebabnya

Potensi Risiko Bencana

Di sisi lain, Kang Halim tak menampik bahwa Bumi Projotamansari memiliki sejumlah potensi bencana mulai dari gempa, banjir, longsor, hingga tsunami. 

Dengan potensi tersebut sudah sepatutnya masyarakat Bantul menjadi masyarakat tangguh dan suka bergotong royong yang telah diakui oleh negara Asia Tenggara. 

"Bahwa revitalisasi, rekonstruksi, rehabilitasi pasca gempa bumi tercepat adalah Kabupaten Bantul. Karena budaya gotong royong. Kita tidak punya alat berat, kita tidak punya mesin-mesin yang bisa membersihkan reruntuhan itu, semua manual bergotongroyong, bahkan bergotongroyong untuk membangun kembali rumah-rumah penduduk itu secara bergembira," paparnya.

Penyumbang Ekspor Tertinggi di DIY

Orang nomor satu di Bumi Projotamansari ini turut menjelaskan dengan banyaknya potensi usaha lokal menjadikan Kabupaten Bantul sebagai daerah penyumbang ekspor terbanyak daripada empat kabupaten/kota lain di DIY.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), 70 persen ekspor DIY berasal dari Bantul.

"Ekspor apa? garmen dan barang-barang seni, craft, home decor. Ada tembikar, ada mebel yang unik-unik itu. Bahkan, ada barang-barang yang dari bahan bekas namanya upcycle. Kalau recycle kan didaur ulang, kalau upcycle itu diubah bentuknya. Misalnya bangkai kulkas bahkan bangkai pesawat direkayasa oleh para seniman Bantul dan diekspor juga," katanya.

Kondisi tersebut membuat Bantul sebagai kota internasional dan terbuka.

Walau begitu, Kang Halim mengungkapkan bahwa terdapat konsekuensi saat terjadi guncangan geopolitik maupun perang Iran dengan Israel, Rusia dengan Ukraina.

Sebab, ekspor menjadi terhambat dan pesanan terganggu, sehingga kesejahteraan di sektor industri itu terganggu.

"Ini tidak terjadi pada daerah lain. Mengapa daerah lain tidak bergantung dari ekspor, tidak elastis terhadap geopolitik. Jadi, kalau orang Bantul ke tempat angkringan, rata-rata pekerja pabrik, pekerja barang-barang ekspor. Mereka terbiasa membicarakan geopolitik, karena mereka langsung terkena dampaknya," tutup Kang Halim.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
1 - 0
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
5 - 1
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved