Kenaikan Harga BBM

Ujian Rakyat di Bulan Juni: Tertampar Kenaikan Harga Pangan Hingga BBM

Saat ini, masyarakat dihadapkan dengan kondisi kenaikan harga pangan dan barang, naiknya harga minyak dunia, rupiah melemah, dan kenaikan harga BBM.

Tayang:
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Tribun Jogja
Media Wahyudi Askar menilai kelompok pekerja kelas menengah justru paling merasakan dampak kenaikan harga BBM dibandingkan kelas atas, Rabu (10/6/2026). 

Dengan disparitas harga yang tinggi, ia kini pesimistis dan memperkirakan bisnisnya hanya bertahan 2-3 bulan. 
Dalam waktu dekat, ia dan pengelola Pertashop di DIY dan Jawa Tengah akan mengadakan pertemuan untuk membahas masa depan usaha.

"Siapa yang mau bertahan di Pertashop kalau jual segitu. Teman-teman itu juga mengeluh penurunanya drastis, ada yang tadinya 400 liter jadi 150 liter. Padahal, untuk operasional saja, paling tidak Pertashop itu harus menjual sekitar 200 liter per hari. Baru opersionalnya saja lho," lanjutnya.

Pengusaha otomotif di Kulon Progo, Dedy Sujatmoko, menyebut imbas kenaikan Pertamax kini sudah mulai dirasakan oleh para karyawannya. 

"Mereka terpaksa membeli Pertamax karena beberapa SPBU kesulitan persediaan Pertalite, belum lagi antrean untuk membelinya juga panjang," ujarnya.

Menurut Dedy, selisih kenaikan hingga Rp4.000 untuk seliter Pertamax akan langsung membebani pengeluaran harian, apalagi bagi pekerja yang pendapatannya masih sebatas upah minimum kabupaten/kota (UMK). 

Belum lagi saat ini daya beli masyarakat juga sedang lemah. Pria yang memiliki usaha jual-beli mobil bekas ini mengaku omzetnya turun karena lemahnya daya beli saat ini. 

"Separuh pendapatan juga ikut turun," jelasnya.

Oli mahal

Selain kenaikan harga BBM nonsubsidi naik, masyarakat kini juga dihadapkan dengan kenaikan harga komponen kendaraan, seperti oli, yang dipengaruhi fluktuasi harga minyak dunia dan faktor lain. 

Kepala Unit Bengkel Binangun di Kapanewon Wates, Kulon Progo, Sulistyo Nur Abadi mengungkapkan harga oli melonjak cukup tinggi sejak awal Mei. 

"Salah satu produk oli misalnya, dari harga Rp340 ribu per botol, sekarang naik jadi kisaran Rp400 ribu," kata Sulistyo, Kamis.

Ia menilai kenaikan harga oli dipicu oleh konflik di Iran. 

Terutama sejak adanya blokade di Selat Hormuz, menyebabkan distribusi minyak seluruh dunia terhambat, termasuk Indonesia. 

Kondisi ini semakin diperparah dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus melemah, karena banyak merek oli kendaraan yang diimpor dari luar negeri.

Tak hanya harganya naik, Sulistyo mengungkapkan bahwa pasokan dari distributor kini dibatasi karena sedang terjadi kelangkaan. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved