Kenaikan Harga BBM
Ujian Rakyat di Bulan Juni: Tertampar Kenaikan Harga Pangan Hingga BBM
Saat ini, masyarakat dihadapkan dengan kondisi kenaikan harga pangan dan barang, naiknya harga minyak dunia, rupiah melemah, dan kenaikan harga BBM.
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Hari Susmayanti
Arifin (38), pengemudi ojek asal Bantul, mengaku kecewa dan khawatir dengan kenaikan harga yang terjadi secara mendadak.
Kondisi ini dikhawatirkan bisa memicu peralihan pengguna Pertamax ke Pertalite, sehingga stok BBM subsidi itu jadi kerap kosong.
Ia juga khawatir harga barang lain terkena imbasnya.
"Ya pasti semua harga (komoditas) pasti naik ya, jadi ada dampaknya juga," tuturnya.
Warga Bantul, Sukma (24), mengaku terkejut dan baru mengetahui kenaikan harga Pertamax saat mengisi bensin pada Rabu pagi.
Ia tentu saja kecewa atas kenaikan yang cukup tinggi itu, mengingat selama ini ia mengandalkan Pertamax demi menjaga kualitas performa sepeda motornya.
"Saya beli Rp70.000 biasanya full tank (sekarang tidak lagi)," ucapnya.
Ia turut khawatir kenaikan harga Pertamax berdampak kepada perekonomian dan jual beli barang di pasaran. Selain itu, masyarakat bisa saja beralih menggunakan Pertalite.
"Takutnya nanti pada turun (beralih membeli) Pertalite. Terus (harga jual) Pertalite naik. Kasihan ekonominya kita," tutur dia.
Penjualan anjlok
Tak hanya dikeluhkan warga, kenaikan harga BBM juga menimbulkan dampak tersendiri bagi kalangan pengusaha.
Pemilik Pertashop Gunungkidul, Cokro, mengatakan, penjualan Pertamax per hari biasanya sekitar 800-1.000 liter, namun kini anjlok jadi 213 liter setelah harganya naik.
"Dan itu (penurunan penjualan) dirasakan semua pengelola Pertashop. Kita kan ada grup pengelola Pertashop di DIY, itu biasanya tebus Pertamax rata-rata per hari 85 ribu-110 ribu liter. Tadi saya lihat di grup tebus cuma 33 ribu liter. Turunnya drastis sekali," katanya, Kamis.
Ia mengeluh kesulitan menjual Pertamax lantaran disparitas harga yang tinggi dengan Pertalite.
Sebelum harga Pertamax naik, Pertashop menjadi pilihan masyarakat lantaran selisih harga Rp2.000 per liter dengan Pertalite.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kenaikan-Harga-Pertamax.jpg)