Refleksi Gempa 2006

Jejak Solidaritas Sosial Usai Gempa 2006 di Padukuhan Ngibikan Bantul

Hunian di Padukuhan Ngibikan, Kalurahan Canden, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, menjadi bukti nyata upaya rekonstruksi pascagempa Mei 2026.

Tayang:
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana
Sejumlah masyarakat sedang menelusuri rumah yang dibangun pascagempa bumi 2006 di Padukuhan Ngibikan, Kalurahan Canden, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta pada Minggu (31/5/2026) siang. 

Tiga bulan kemudian, 65 unit rumah berhasil dibangun. 

Rumah itu awalnya dirancang untuk bertahan hanya lima tahun, namun ternyata masih berdiri kokoh hingga saat ini. 

Rinawati Adhypranata, istri mendiang arsitek Eko Prawoto, merasa senang karena sampai saat ini bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan dihuni oleh masyarakat. 

Mendiang suaminya membantu membuatkan desain rumah, sedangkan pembangunannya memanfaatkan bahan yang ada. 

"Kayu yang masih bisa dipakai, ya dipakai untuk membangun rumah. Kami ingin meminimalkan budget bangunan, jadi bisa memaksimalkan banyaknya rumah yang bisa dibangun," tutur dia.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa gelaran susur Padukuhan Ngibikan pada saat ini tidak hanya sebagai refleksi gempa bumi, tetapi juga didedikasikan untuk mengenang kepergian Eko. 

Gelaran susur Ngibikan ini berdekatan dengan waktu 1.000 hari kepergian Eko, yang tutup usia pada 2023. 

Merajut harapan

Ketua Yayasan Eko Agus Prawoto, Krisna Tjahja, mengatakan, kegiatan susur ini tidak hanya sebagai refleksi gempa bumi, tetapi ingin mengajak masyarakat untuk merajut kembali harapan melalui arsitektur yang sepenuhnya dikonstruksi dari percakapan tulus. 

Pihaknya sengaja menggandeng generasi muda sebagai penerus bangsa untuk menjaga dan meneruskan warisan yang sudah ada. 

Apalagi, Padukuhan Ngibikan telah menjadi perhatian dunia dikarenakan sebagai salah satu lokasi dengan penanganan pascagempa tercepat.

Kendati begitu, warga terkadang tidak sadar bahwa desa mereka menjadi daya tarik dunia. 

Padahal, 80 persen dari total puluhan bangunan yang dibangun pasca gempa bumi tahun 2006 silam, masih dalam kondisi baik dan masih dihuni oleh masyarkat sampai saat ini.

"Oleh Pak Eko dahulu, bangunan itu hanya dibangun sebagai selter sementara. Ternyata, selama 20 tahun ini masih kokoh, masih dipakai, dan para penghuninya enggan mengubah bentuk bangunan yang ada," ucap Krisna.

Pemilik Cemeti Institute Art and Society, Nindityo Adipurnomo, terlihat hadir dalam acara tersebut. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved