Misteri Api di Rumah Warga Sleman

Kisah Keluarga di Seyegan Sleman 10 Hari Hadapi Teror Api yang Tak Berhenti

Dalam sehari, setidaknya ada tujuh hingga delapan letupan api misterius yang meneror rumah Mutfiana dan Agusyani di Kasuran, Seyegan, Sleman

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
TERBAKAR - Agusyani sedang menata barang-barang miliknya yang hangus terbakar dalam sepuluh hari terakhir. 

Gas yang tersimpan di dalam rawa purba ini diduga telah melebihi kapasitasnya untuk keluar secara alami ke permukaan.

Gas tersebut disinyalir bermigrasi mencari jalan keluar dengan menembus rekahan atau patahan kecil di dalam tanah, hingga akhirnya muncul berada tepat di bawah kediaman Agusyani.

Gas yang terjebak di material berpori rumah lalu bereaksi dengan suhu ruangan hingga memicu percikan api spontan.

"Semua yang terjadi bisa dijelaskan secara ilmiah. Ini baru langkah awal, nanti kita lihat apakah ada retakan retakan atau kekar yang bisa kami identifikasi di permukaan. Mungkin setelah kami diskusi lebih lanjut, geofisika, untuk mengidentifikasi ini," katanya. 

Analisis tentang keberadaan rawa purba dan biogenic gas dari tim ahli UPN ini diperkuat dengan cerita masyarakat setempat. 

Warga Nepen, Jingin Margomulyo, Sihono mengungkapkan bahwa sekira setahun lalu ada kebakaran hebat di sekitar rumpun bambu di tepian sungai jembatan Nepen tersebut. Warga saat itu belum mengetahui mengapa api tiba-tiba bisa muncul. 

"Iya dulu pernah ada kebakaran. Mungkin tahun lalu, di tepian sungai, api tiba-tiba mulad (menyala) sendiri," katanya. 

Peristiwa sama sebelumnya

Warga lain, Setiyani mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya di sebelah timur pos ronda dusun Nepen, juga pernah ada kebakaran lahan tanpa diketahui penyebabnya. 

Kebakaran terjadi di waktu maghrib. Ia yang rumahnya berdekatan dengan pos ronda tersebut saat itu mengira ada yang membakar. Tapi aneh juga mengapa membakar lahan di waktu menjelang petang. 

"(Kejadian kebakaran) sekitar empat bulan yang lalu. Lalu sumur saya juga kering dan mau dikeduk (dibuat lebih dalam) baunya gas," kata dia. 

Jika analisis tentang rawa purba dan gas itu benar, sembari menunggu hasil penelitian lebih mendalam, Dr. Ardian merekomendasikan agar rumah Agusyani sementara waktu tidak ditinggali demi keselamatan. 

Tetapi masalahnya, bagi keluarga Agusyani, pindah bukanlah perkara mudah. Mereka sangat membutuhkan bantuan semacam hunian sementara dari Pemerintah dangan lokasi pengungsian yang tak jauh dari rumah agar mereka tetap bisa menjaga asa dan merintis kembali usaha yang menjadi urat nadi kehidupan keluarga.

Analisis tentang keberadaan gas ini, diperkuat hasil penelitian sementara dari BPPTKG. Penyelidik Bumi Muda BPPTKG, Aris Dwi Nugroho menjelaskan, mengapa fenomena kebakaran ini hanya terkonsentrasi di rumah Agusyani. 

Menurut Aris bahwa sejarah tapak tanah rumah tersebut menjadi kunci. Area yang kini menjadi rumah tinggal Agusyani dulunya merupakan area lahan persawahan.

Secara geologis, di bawah tanah wilayah itu terbentuk struktur kekar atau rekahan batuan (shear join) lokal yang membentang dari arah tenggara menuju barat laut.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved