Libur Panjang Iduladha: Okupansi Hotel di Jogja Moncer, Tapi Biaya Produksi Melejit

Potensi lonjakan wisatawan ini rupanya belum sepenuhnya membawa angin segar bagi kantong para pelaku usaha perhotelan.

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono 

Ringkasan Berita:
  • Okupansi hotel di DIY menjelang libur panjang Iduladha diprediksi mencapai 60 hingga 80 persen.
  • Keuntungan hotel menipis karena pembengkakan biaya operasional tidak bisa dibebankan kepada konsumen akibat penurunan daya beli masyarakat.
  • Melemahnya rupiah menjadi berkah karena menarik minat wisatawan mancanegara dan mengalihkan liburan kaum urban domestik ke Yogyakarta.

 

TRIBUNJOGJA.COM - Geliat pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta menjelang libur panjang atau long weekend Iduladha menunjukkan tren positif.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mencatat, angka reservasi dan okupansi hotel diprediksi mampu menyentuh angka 60 - 80 persen.

Meski demikian, potensi lonjakan wisatawan ini rupanya belum sepenuhnya membawa angin segar bagi kantong para pelaku usaha perhotelan.

Tantangan berat biaya produksi

​Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengungkapkan kalangannya tengah menghadapi tantangan berat berupa pembengkakan biaya produksi. 

​"Kalau bicara okupansi, ya alhamdulillah cukup bagus, rata-rata 60 sampai 80 persen. Tapi biaya produksi kan juga naik. Jadi revenue (pendapatan) ya pas-pasan," ujarnya, Selasa (26/5/26).

​Bukan tanpa alasan, Deddy berujar, meroketnya biaya operasional tidak bisa serta-merta dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga kamar. 

Pasalnya, daya beli masyarakat kini terpantau mengalami penurunan, sehingga hotel harus menerapkan strategi dynamic rate alias tarif dinamis yang fluktuatif.

​"Kita tidak bisa menaikkan harga karena daya beli masyarakat turun. Jadi hotel-hotel itu kan pakai dynamic rate, ya. Kita melihat situasi dan kondisi yang ada. Jadi ya betul, keuntungan yang didapat tipis," jelasnya.

​Di sisi lain, situasi ekonomi makro seperti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ternyata membawa dampak ganda bagi sektor kepariwisataan.

​Dari sisi negatif, melemahnya rupiah kian menekan daya beli masyarakat domestik, sehingga liburan tidak lagi menjadi prioritas utama jika tak mendesak.

​Namun dari sisi positif, lanjutnya, kondisi ini justru menjadi berkah tersembunyi bagi pasar wisatawan mancanegara (wisman) dan domestik kelas atas.

​"Positifnya, wisatawan asing yang ke sini kan pakai rupiah, mereka bisa dapat rupiah yang cukup banyak (karena nilai dolar tinggi). Selain itu, orang lokal yang tadinya mau ke luar negeri akhirnya menunda dan mengalihkan liburannya ke dalam negeri. Nah, Yogya dan Bali menjadi pilihan utama mereka," paparnya.

Harus jeli menangkap peluang

​Menghadapi situasi yang dinamis ini, PHRI DIY mengimbau para pelaku industri pariwisata untuk lebih jeli menangkap peluang tanpa harus menjerat wisatawan dengan harga selangit.

​Deddy menekankan pentingnya menjaga keseimbangan tarif, baik untuk paket wisata maupun harga kamar hotel, agar tetap terjangkau oleh kantong masyarakat.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved