Strategi Sultan Atasi Kekerasan Remaja: Bentuk Tim Khusus Lintas Elemen

Salah satu langkah strategis yang diambil oleh Sri Sultan adalah membentuk tim khusus yang bertugas untuk mengidentifikasi masalah utama

Tayang:
Penulis: HAS | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/R.Hanif Suryo Nugroho
PENGARAHAN - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Pembangunan Daerah DIY Triwulan I Tahun 2026 yang digelar di Gedhong Pracimasana DIY, Kamis (30/4/2026). Dalam rapat yang mengangkat tema "Investasi yang Berkelanjutan di Kawasan Selatan" ini, Sultan menekankan perlunya investasi yang berkualitas dan berkelanjutan di kawasan selatan Yogyakarta, dengan mempertimbangkan keseimbangan ekologis dan kemanfaatan nyata bagi masyarakat. 

Ringkasan Berita:
  • Sri Sultan HB X membentuk tim khusus lintas elemen untuk mengidentifikasi akar masalah dan motif di balik kembali maraknya kekerasan remaja di Yogyakarta.
  • Sultan menegaskan penanganan kekerasan remaja tidak bisa hanya dibebankan kepada polisi, melainkan butuh kolaborasi dari keluarga, lingkungan, dan masyarakat.
  • Polresta Yogyakarta dan Polda DIY menangkap 3 dari 6 pelaku pembacokan (konflik antar geng sekolah) di Cilacap, sementara 3 pelaku lainnya masih diburu.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengambil langkah cepat dalam menyikapi kasus kekerasan remaja yang memakan korban jiwa di Kota Yogyakarta.

Salah satu langkah strategis yang diambil oleh Sri Sultan adalah membentuk tim khusus yang bertugas untuk mengidentifikasi masalah utama yang memicu maraknya kekerasan di kalangan remaja tersebut.

Tim khusus ini akan mendalami motif dan akar permasalahan yang menjadi penyebab utama meningkatnya kasus kekerasan yang melibatkan kalangan remaja.

"Ya, sekarang itu kan kita sedang melakukan identifikasi ya. Karena selama ini kan predik sekian bulan itu kan tidak ada. Kenapa ada lagi? Kita kan enggak tahu persis kondisi ekonomi, atau memang memang kenakalan biasa, kita kan enggak tahu. Ya kita sedang mencoba mengidentifikasi. Yang dulu kan coba dilakukan Jaga Warga untuk bisa menjaga keamanan di warganya, kan gitu. Tapi sekarang kok timbul lagi toh? Motifnya apa, sekarang kan perlu kita tahu dalami itu dulu. Tapi kan belum ada report dari dari tim,?," ujar Sultan.

Tim khusus ini menurut Sultan terdiri dari berbagai elemen masyarakat.

Nantinya, kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah akan ditetapkan setelah adanya laporan dari tim khusus yang dibentuk tersebut.

Sri Sultan mengaku persoalan maraknya kekerasan di kalangan remaja ini tidak bisa dibebankan kepada kepolisian saja.

Namun diperlukan kolaborasi semua pihak, keluarga, lingkungan dan masyarakat.
"Ya, saya belum tahu persis ya. Karena kan nanti komentar saya dengan keadaan riilnya beda kan enggak nyaman saya, kan gitu. Biar kita sudah bentuk tim, ya kan? Tim itu sudah bekerja mencoba mengidentifikasi, tapi kan tidak sesederhana itu. Tidak sekedar dengan polisi, tapi juga dengan lingkungan, masyarakat, yang mungkin dan sebagainya, apa yang sebetulnya terjadi. Atau kenakalan biasa, atau memang seniornya itu yang membina, kan kita kan enggak tahu semua itu seperti itu. Nanti jangan sampai keliru. Nggih?" kata Sultan.

Baca juga: Akhir Penantian 12 Tahun, Jembatan TMMD di Windusari Kini Sambungkan Harapan Warga

Tiga Pelaku Diamankan

Sebelumnya, tim gabungan Polresta Yogyakarta dan Polda DIY berhasil mengamankan tiga pelaku pembacokan pelajar di depan SMAN 3 Yogyakarta di tempat persembunyiannya di Cilacap.

Kapolresta Yogyakarta Eva Guna Pandia membenarkan penangkapan tiga pemuda yang sempat melarikan diri usai insiden berdarah di depan SMAN 3 Yogyakarta tersebut.

Dari tiga pelaku yang diamankan, satu orang berinisial AF diketahui masih berstatus pelajar aktif di sebuah SMK. Sementara dua orang lainnya, yakni LA dan MY, merupakan alumni dari sekolah yang sama.

Pandia mengungkapkan bahwa para pelaku memiliki peran sebagai petarung di lapangan.

Polisi memastikan bahwa insiden ini dipicu oleh konflik dan aksi saling tantang antar geng sekolah yang berbeda, bukan aksi kekerasan jalanan acak.

"Untuk pelaku pembacokan yang di Kridosono, tadi subuh Satreskrim beserta jajaran bergabung juga dengan Polda berhasil mengamankan tiga orang pelaku di daerah Cilacap. Perannya pelaku, fighter. Memang ini pelakunya juga geng terus korbannya juga dari geng," ucap Pandia.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved