Sinergi SMA Kolese De Britto dan SMA PL Yogya, Menimba Makna Hidup Lewat Karya 'Sumur Tanpa Dasar'

Para pelajar SMA Kolese De Britto dan SMA Pangudi Luhur Yogyakarta berkolaborasi melalui lakon monumental 'Sumur Tanpa Dasar' karya Arifin C. Noer

Tayang: | Diperbarui:
Tribun Jogja/dok. Istimewa
PEMENTASAN - Murid SMA Kolese De Britto dan SMA Pangudi Luhur Yogyakarta membawakan salah satu adegan dalam lakon "Sumur Tanpa Dasar" karya Arifin C. Noer di panggung Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Rabu (13/5/2026). Pementasan kolaboratif ini menjadi medium bagi generasi muda untuk merefleksikan kehampaan hidup manusia modern di tengah kejaran ambisi dan kekuasaan. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ambisi, kekuasaan dan perburuan duniawi kerap kali menjebak manusia modern ke dalam lorong hampa yang tak berujung.

Kehampaan eksistensial itulah yang dengan apik dipantulkan dari atas panggung Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Rabu (13/5/2026) malam.

Melalui lakon monumental “Sumur Tanpa Dasar” karya Arifin C. Noer, para pelajar SMA Kolese De Britto dan SMA Pangudi Luhur (PL) Yogyakarta tak sekadar unjuk kebolehan akting. 

Mereka sukses mengguncang nurani ratusan penonton untuk sejenak berhenti, menghela napas, dan menatap ke dalam relung batin mereka sendiri.

Suasana penuh refleksi, kreativitas, dan semangat kolaborasi menyelimuti auditorium sejak tirai panggung dibuka pada pukul 18.00 WIB. 

Pementasan ini menjadi muara dari proses panjang yang tidak hanya menguras energi fisik, tetapi juga melibatkan kedalaman rasa para murid.

Simbol "sumur tanpa dasar" yang menjadi poros cerita menjadi metafora tajam bagi manusia modern: sebuah kejaran tanpa henti akan kepemilikan yang sering kali berakhir pada kehampaan makna hidup.

Di balik kemeriahan lampu panggung, pementasan ini adalah sebuah pernyataan sikap tentang arah pendidikan. 

Kepala SMA Kolese De Britto, R. Arifin Nugroho, S.Si., M.Pd., menegaskan bahwa teater bukanlah sekadar aktivitas sampingan atau ekstrakurikuler pengisi waktu. Baginya, panggung adalah ruang pembentukan manusia yang utuh.

Pendidikan sejati, menurut Arifin, tidak boleh terjebak hanya pada angka-angka akademik di atas kertas, melainkan harus menyentuh keberanian untuk merefleksikan realitas.

“Melalui teater, para murid belajar mendengarkan kehidupan, memahami pergulatan manusia, dan menemukan makna di balik setiap peristiwa. Inilah bagian dari pendidikan karakter yang ingin terus kami bangun di De Britto,” ungkap Arifin.

Pandangan senada datang dari Kepala SMA Pangudi Luhur Yogyakarta, Anna Fitri Anitasari Nugroho, S.Pd.

Ia melihat kolaborasi ini sebagai oase kontemplatif di tengah kebisingan zaman.

Di saat arus digitalisasi menyeret generasi muda ke dalam budaya yang serba instan, teater justru menawarkan sebaliknya yakni keheningan dan kedalaman.

“Di tengah budaya instan dan derasnya arus digitalisasi, teater menghadirkan ruang hening untuk berpikir, merasakan, dan memaknai hidup. Anak-anak muda perlu memiliki ruang seperti ini agar tidak kehilangan kedalaman kemanusiaannya,” tegas Anna.

Baca juga: Merayakan Kelulusan Tanpa Bising: Tradisi Jalan Kaki dan Berbagi ala SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Sinergi Lintas Generasi dan Media

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved