Imbas Dexlite Meroket, Bus Sekolah Gunungkidul Tak Lagi Layani Jemputan Pulang

Pemkab Gunungkidul memutuskan untuk membatasi operasional Bus Sekolah gara-gara melonjaknya harga BBM nonsubsidi jenis Dexlite.

Tayang:
Penulis: HAS | Editor: Hari Susmayanti
Kompas.com/Markus Yuwono
Ilustrasi bus sekolah. Bus Sekolah Gratis saat melintas di Kota Wonosari, Gunungkidul 

Sigit menjelaskan, saat harga Dexlite naik dari Rp 14.200 menjadi Rp 23.600 yang lalu, pihaknya sudah melakukan  kajian.

Hasilnya, operasional Bus sekolah saat itu diperkirakan hanya mampu bertahan hingga akhir Juni saja.

Namun harga Dexlite kembali mengalami kenaikan sehingga pihaknya langsung melakukan kajian kembali hingga akhirnya diputuskan untuk mengurangi operasional Bus Sekolah.

Adapun alokasi anggaran yang disediakan oleh Pemkab Gunungkidul untuk satu unit Bus Sekolah menurut Sigit sebesar Rp 392 juta per tahun.

Anggaran itu digunakan untuk pembelian BBM, pemeliharaan hingga pajak kendaraan.

 "Kami belum menghitung anggaran kenaikan saat ini, dan yang pasti tidak bisa sampai akhir tahun," kata Sigit.

Adapun sejak kenaikan harga BBM nonsubsidi hingga saat ini, belum ada kebijakan penambahan anggaran operasional.

Mau tidak mau pihaknya harus melakukan perubahan operasional Bus Sekolah dengan meniadakan operasional penjemputan kepulangan.

Sekretaris Dinas Perhubungan Gunungkidul, Bayu Susilo Aji mengatakan, kenaikan harga BBM non-subsidi berpengaruh terhadap operasional bus sekolah.

Hingga saat ini, belum ada kepastian sehingga ada kebijakan mengurangi jam operasi bus sekolah.

Selain kebijakan penambahan anggaran, pihaknya melakukan kajian agar bus sekolah bisa menggunakan BBM non-subsidi. Sebab, layanan bus sekolah bisa mengurangi kecelakaan pelajar.

"Yang sedang diperjuangkan, tapi kami tetap mengedepankan serta mengacu pada aturan dan ketentuan yang berlaku," kata dia.

Baca juga: Nasib Bus Sekolah Gunungkidul di Tengah Kenaikan BBM, Dishub Hitung Ulang Anggaran Agar Tetap Jalan

Harus Beroperasi Seperti Biasa

Sementara itu Wakil Ketua DPRD Gunungkidul Heri Nugroho mengatakan bahwa Bus Sekolah merupakan layanan publik yang berdampak langsung kepada anak-anak sekolah.

Jika layanan ini tidak bisa dioperasionalkan seperti biasa karena terkendala kenaikan harga BBM nonsubsidi, maka anak-anak sekolah yang selama ini menggunakan layanan Bus Sekolah akan terdampak.

Untuk itu dewan mendesak agar operasional Bus Sekolah tetap seperti biasa, melayani penjemputan pagi hari dan siang hari di semua rute.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved