JOGJA HARI INI : Korban Little Aresha Daycare Terindikasi Speech Delay

Belasan anak korban Little Aresha Daycare, Kota Yogyakarta terindikasi mengalami gangguan tumbuh kembang,

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Hanif Suryo
Lokasi Daycare Little Aresha di Umbulharjo Yogyakarta. Tempat penitipan anak ini menjadi tempat terjadinya kekerasan terhadap para balita yang dititipkan. 

Ringkasan Berita:
  • Dinkes Kota Yogyakarta mendeteksi 17 anak korban daycare mengalami masalah gizi dan 13 anak mengalami gangguan perkembangan, termasuk speech delay, ADHD, hingga indikasi autisme
  • Tim gabungan puskesmas memberikan pendampingan intensif, pemberian makanan tambahan, dan terapi psikologis yang diperkirakan membutuhkan waktu minimal 6 bulan
  • Sri Sultan Hamengku Buwono X menerbitkan Ingub yang mewajibkan audit total izin daycare, pengetatan standar pengasuhan, serta sanksi penutupan bagi yang melanggar

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Belasan anak korban Little Aresha Daycare, Kota Yogyakarta terindikasi mengalami gangguan tumbuh kembang, mulai dari masalah gizi hingga keterlambatan bicara (speech delay).

Untuk upaya penanganan gangguan perkembangan, psikolog Puskesmas telah merencanakan program terapi yang sesuai dengan tingkat keparahan masing-masing anak. 

Kepala Dinkes Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, menjelaskan, tim gabungan dari enam Puskesmas telah diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap 131 anak.

Hasilnya, ditemukan fakta yang cukup memprihatinkan terkait kondisi fisik dan psikis para anak yang jadi korban dugaan kekerasan dan penelantaran tersebut.

"Kemarin yang masalah gizi itu ada 17 anak. Lalu yang terkait gangguan perkembangan ada 13 anak," ujar Kadinkes, saat dikonfirmasi, Senin (4/5/2026).

Emma merinci, 13 anak yang mengalami gangguan perkembangan tersebut menunjukkan berbagai gejala, mulai dari hiperaktif, kecenderungan ADHD dan autism, hingga keterlambatan bicara.

Meski demikian, ia menekankan, bahwa hasil tersebut masih bersifat diagnosis sementara dan memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui pemeriksaan mendalam.

"Itu baru diagnosis sementara, harus diverifikasi lagi. Ada yang speech delay atau keterlambatan bicara itu tiga anak. Kemudian, ada yang kecenderungan ADHD dan autism. Nanti akan diperiksa lagi secara detail," jelasnya.

Untuk menangani temuan tersebut, Dinkes Kota Yogyakarta sudah menginstruksikan Puskesmas di wilayah tempat tinggal masing-masing korban untuk melakukan pendampingan intensif.

Setiap Puskesmas mengerahkan tim yang terdiri dari dokter, bidan, nutrisionis atau ahli gizi, dan psikolog klinis.

Kemudian, bagi anak yang mengalami masalah gizi seperti berat badan kurang atau anemia, ditempuh langkah Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

"Kalau yang masalah gizi, nanti dikembalikan ke Puskesmas wilayah masing-masing untuk didampingi nutrisionis. Jika berat badannya kurang, nanti diberikan PMT," urai Emma. 

Baca juga: 79 Pelajar DIY Bersaing Ketat dalam Seleksi Paskibraka 2026, Integritas Jadi Penilaian Utama

Butuh proses panjang

Emma mengungkapkan, jika kondisi anak memerlukan penanganan yang lebih spesifik, pihaknya siap memberikan rujukan ke fasilitas kesehatan lebih tinggi. 

Namun, Kadinkes mengingatkan, bahwa proses pemulihan tumbuh kembang anak-anak korban dugaan kekerasan dan penelantaran ini tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved