Sinergi Dapur dan Petani Punk Bidik Kemandirian Pangan DIY Lewat Program MBG
Langkah strategis ini merujuk pada standar antropometri terbaru dari WHO dan FAO untuk memastikan setiap porsi makanan memiliki ketepatan gizi
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Upaya penguatan kemandirian pangan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.
Kali ini, Yayasan Biijana Paksi Sitengsu bersinergi dengan komunitas Petani Punk untuk mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mengoptimalkan potensi lokal melalui Lumbung Mataraman.
Langkah strategis ini merujuk pada standar antropometri terbaru dari WHO dan FAO untuk memastikan setiap porsi makanan memiliki ketepatan gizi, terutama protein hewani, guna menekan angka stunting dan gangguan pertumbuhan pada anak di wilayah DIY.
Pembina Yayasan Biijana Paksi Sitengsu yang juga Sentono Dalem Keraton Yogyakarta, RM Wahyono Bimarso, menjelaskan program MBG akan menyerap bahan pangan berkualitas langsung dari hasil bumi masyarakat, seperti telur, ikan, daging ayam, dan sayuran segar.
"Fokus kita bukan sekadar memberi makan, tapi memastikan ketepatan gizi berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Anak usia 1 - 9 tahun membutuhkan asupan 1.350 hingga 1.650 kkal dengan protein 20-40 gram per hari," ujarnya, Senin (4/5/2026).
Upaya ini sejalan dengan tren positif penurunan prevalensi stunting di Indonesia yang kini berada di angka 19,8 persen menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024.
Baca juga: Sri Sultan HB X Terbitkan Ingub Tentang Pengawasan Daycare, Ini Isinya
Guna menjamin transparansi dan kualitas distribusi, Yayasan Biijana Paksi Sitengsu tengah menyiapkan pilot project di Gunungkidul dengan membangun Command Center Lumbung Mataram "SIMETRIS" yang saat ini progres infrastrukturnya telah mencapai 100 persen.
Command Center memiliki fitur unggulan seperti real-time tracking pengiriman makanan, batch monitoring proses memasak, hingga nutritional dashboard untuk memastikan standar gizi terpenuhi secara otomatis.
Sementara, kolaborasi ini disambut baik oleh Koordinator Petani Punk, SiBagz, yang berharap Yogyakarta mampu menjadi role model nasional dalam program ketahanan pangan berbasis kedaulatan lokal.
"Kita tetap memantau agar program ini benar-benar bisa menjadi angin segar bagi para petani muda yang selama ini sering mengalami kendala dalam pemasaran hasil panen dan terkadang bingung untuk pemasaran dan harus bergantung pada pengepul," jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan Dapur MBG diharapkan mampu memangkas rantai distribusi yang panjang, sehingga petani milenial maupun Gen Z bisa menyuplai kebutuhan pangan.
Dengan begitu, kemanfaatan program pun bisa ikut dirasakan langsung oleh warga masyarakat lokal, sekaligus untuk menggeliatkan perekonomian.
"Kami berharap program ini menjadi momentum regenerasi petani, mengingat pentingnya peran petani muda dalam menjaga ketahanan pangan hingga 20 tahun ke depan," imbuhnya. (*)
| Bupati Hamenang Jenguk Korban Keracunan Massal di Kecamatan Tulung |
|
|---|
| Menu MBG yang Konsumsi Siswa SMP 1 Tulung Sebelum Mengalami Gejala Keracunan |
|
|---|
| Bappenas Setop Rencana 104 Juta Penerima MBG, Prioritaskan Perbaikan |
|
|---|
| Cegah Keracunan Makanan, Teknologi AI 'Simetris' Siap Kawal Distribusi MBG di Jogja |
|
|---|
| Mimbar Legislasi DPRD Bantul : Dodi Purnomo Jati Sebut Petani Milenial Kunci Ketahanan Pangan Bantul |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20260405-Komunitas-Petani-Punk-di-Jogja.jpg)