Musik Punk dan Kultur Sepak Bola Tetap Hidup Bersama Over Distortion

Hubungan antara musik dan kultur sepakbola masih menjadi ruang yang hidup di tengah berkembangnya musik independen di Yogyakarta.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/IST
Personel Over Distortion 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Hubungan antara musik dan kultur sepak bola masih menjadi ruang yang hidup di tengah berkembangnya musik independen di Yogyakarta. 

Salah satu yang konsisten menjaga irisan tersebut adalah Over Distortion, band asal Sleman yang sejak 2010 dikenal membawa semangat tribun ke dalam karya - karya musik mereka.

Selama lebih dari satu dekade, Over Distortion membangun identitas lewat warna musik yang mereka sebut sebagai “dirty punk rock”, perpaduan punk dengan sentuhan surf dan psychobilly.

Lirik-lirik mereka juga lekat dengan kultur suporter dan kehidupan komunitas, khususnya yang berkaitan dengan PSS Sleman.

Vokalis sekaligus gitaris Over Distortion, Fahmi Muzak, mengatakan sejak awal band tersebut memang ingin menjaga kedekatan dengan kultur yang tumbuh bersama mereka.

“Over Distortion tetap berdiri di jalur yang sama, mengakar pada kultur, bergerak bersama komunitas, dan menjaga semangat kolektif yang lahir dari barisan, di dalam maupun di luar stadion,” ujarnya.

Karakter musik yang mereka bangun juga membawa Over Distortion dikenal lebih luas di luar lingkup lokal. Salah satu karya mereka, ‘Selebrasi’, bahkan pernah diaransemen ulang oleh band punk asal Inggris, Booze & Glory. 

Momen tersebut menjadi salah satu penanda bahwa musik yang lahir dari kultur lokal ternyata mampu menjangkau pendengar lintas negara.

Perjalanan 10 tahun

Memasuki perjalanan lebih dari 10 tahun, Over Distortion kemudian merangkum fase tersebut lewat rilisan bertajuk ‘10 Tahun Di Barisan’. 

Album itu pertama kali dirilis dalam format CD pada 2021, sebelum akhirnya kembali dirilis dalam format kaset pita pada perayaan Record Store Day 2026 bersama Gimme Gimme Rekords.

Rilisan ulang tersebut dibuat terbatas sebanyak 150 keping dengan nomor produksi khusus di setiap unit. Kaset menggunakan cangkang hitam solid dan dipasarkan seharga Rp 95 ribu.

Menurut Fahmi, album tersebut bukan sekadar dokumentasi perjalanan band, tetapi juga menjadi rangkuman emosional dari fase yang telah mereka lalui selama bertahun-tahun.

“Album ini merepresentasikan perjalanan musikal dan emosional band selama 10 tahun terakhir,” katanya.

Album ‘10 Tahun Di Barisan’ memuat 10 lagu utama serta satu bonus track yang bernuansa lebih reflektif. Antusiasme pendengar terhadap rilisan tersebut juga terlihat saat seluruh stok kaset habis terjual dalam perayaan Record Store Day 2026.

Capaian itu sekaligus menunjukkan loyalitas pendengar mereka, sekaligus memperlihatkan bahwa rilisan fisik dan pendekatan independen masih memiliki tempat di tengah perkembangan industri musik digital saat ini.

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved