Digitalisasi : Efisiensi Energi, dan Paradoksnya

Digitisasi adalah alih format: dokumen produksi yang kini tersimpan di komputer, laporan konsumsi energi yang dicetak dari spreadsheet

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Prof Djoko Budiyanto Setyohadi 

Di Indonesia, realisasi energi baru terbarukan dalam bauran energi primer nasional masih jauh tertinggal dari target yang ditetapkan untuk 2025.

Angka-angka ini tidak bergerak bukan karena teknologinya belum ada, melainkan karena industri masih berhenti pada digitisasi memasang perangkat tanpa mengubah cara berpikir.

Selama jarak antara digitisasi dan digitalisasi belum ditutup, pemborosan energi dan bebannya pada lingkungan akan terus berlanjut.

Digitalisasi adalah pintu masuk efisiensi yang belum terbuka karena masalah cara pandang.

Kurangnya penggunaan data digital membuat berbagai keputusan terbentuk bukan bersumber data aktual.

McKinsey mencatat bahwa sekitar dua pertiga energi yang diproduksi secara global saat ini terbuang bukan akibat keterbatasan teknologi, melainkan akibat ketiadaan visibilitas dan sistem koreksi.

Mengapa bertahan lama? Ada tiga pengunci yang bekerja bersamaan.

Investasi pemantauan energi selalu dikalahkan prioritas belanja produksi karena dianggap biaya, bukan aset.

Regulasi tidak mewajibkan pelaporan konsumsi energi maupun emisi secara rinci, sehingga pemborosan tidak pernah menjadi masalah yang terlihat.

Dan di dalam organisasi industri sendiri, operator yang tahu ada inefisiensi tidak punya data cukup untuk meyakinkan manajemen bahwa perubahan diperlukan (Rohdin & Thollander, 2006).

Di sinilah digitalisasi bekerja sebagai koreksi sistemik. Sensor IoT di lantai produksi membaca konsumsi energi setiap saat.

AI mengolah data itu menjadi peringatan dini sebelum mesin memasuki kondisi degradasi.

Henkel, perusahaan consumer goods global, mengimplementasikan digital twin untuk memantau penggunaan energi lintas pabrik dan berhasil memangkas konsumsi energi keseluruhan sebesar 16 persen, menghasilkan penghematan puluhan juta euro dalam lima tahun.

Di logistik, algoritma optimasi rute berbasis AI terbukti memangkas konsumsi bahan bakar secara signifikan dalam skenario dengan infrastruktur digital yang memadai.

Namun di balik kemampuan itu, perlu dipertimbangakan biaya yang jarang dihitung.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved