Digitalisasi : Efisiensi Energi, dan Paradoksnya
Digitisasi adalah alih format: dokumen produksi yang kini tersimpan di komputer, laporan konsumsi energi yang dicetak dari spreadsheet
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Oleh
Djoko Budiyanto Setyohadi
Dosen sekaligus Kepala Laboratorium Inovasi Teknologi & Sistem Informasi UAJY
Banyak industri merasa telah melakukan digitalisasi. Padahal jika ditelusuri lebih dalam, yang terjadi baru sebatas digitisasi dan perbedaan antara keduanya menentukan apakah teknologi benar-benar bekerja untuk lingkungan, atau hanya bekerja untuk tampilan.
Digitisasi adalah alih format: dokumen produksi yang kini tersimpan di komputer, laporan konsumsi energi yang dicetak dari spreadsheet, formulir pengadaan yang diisi lewat aplikasi.
Prosesnya tampak modern, namun struktur bisnis prosesnya identik. Berganti dari hardcopy menjadi softcopy, dari kertas ke layar tidak ada yang berubah dalam cara data digunakan untuk memutuskan.
Digitalisasi adalah sesuatu yang berbeda secara mendasar, bukan soal mengganti medium, melainkan menggunakan apa yang ada di balik layar: data digital yang mengubah cara industri membaca realitas dan merespons perubahan.
Jika dulu sebuah pabrik mencatat konsumsi listrik secara manual lalu melaporkannya seminggu sekali, digitalisasi memungkinkan data itu terbaca otomatis setiap detik.
Anomali terdeteksi seketika; tindakan dapat diotomatisasi atau diambil secara semi-manual sebelum inefisiensi membesar.
Schwab (2016) menyebut transformasi ini sebagai inti dari Revolusi Industri Keempat bukan sekadar otomasi, melainkan integrasi data dalam setiap titik keputusan.
Baca juga: UAJY dan Kemlu RI Jalin Sinergi Penguatan Kerja Sama ASEAN
Efisiensi dan Emisi
Dari distingsi itulah dua mekanisme penghematan energi bekerja serentak. Pertama, visibilitas waktu nyata memungkinkan koreksi sebelum pemborosan menjadi kebiasaan.
Kedua, sejumlah proses bisnis konvensional yang sebelumnya memerlukan produksi benda fisik perjalanan, cetak dokumen, pertemuan tatap muka dapat digantikan proses elektronik yang jauh lebih rendah jejak emisinya.
IEA mencatat bahwa industri bertanggung jawab atas sekitar 38 persen konsumsi energi final global dan 24 persen total emisi CO₂ perlu dirubah dari dalam.
Urgensinya tidak bisa ditunda. Emisi CO₂ global dari energi dan proses industri mencapai rekor baru pada 2023.
| UAJY dan Kemlu RI Jalin Sinergi Penguatan Kerja Sama ASEAN |
|
|---|
| FH UAJY Kolaborasi dengan Alumni Gelar Diskusi Hukum Bersama Ketua MK RI |
|
|---|
| UAJY Hadirkan Solusi Nyata di Muja Muju dengan Inovasi Sampah Berbasis Komunitas |
|
|---|
| NTT Adopsi Digitalisasi Pertanian DIY untuk Tekan Inflasi dan Bangun Pasar Bersama |
|
|---|
| Perkuat Sistem Penjaminan Mutu, Universitas Ciputra Surabaya Lakukan Benchmarking ke UAJY |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Digitalisasi-Efisiensi-Energi-dan-Paradoksnya.jpg)