Festival ICCF UMY, Saat Kuliner dan Budaya Jadi Bahasa Universal Perdamaian

Kegiatan tahunan ini menjadi ajang pertemuan lintas budaya yang melibatkan mahasiswa internasional dari puluhan negara.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Santo Ari
KULINER - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menggelar 11th International Cultural and Culinary Festival (ICCF) 2026 di Gedung Sportorium, Rabu (29/4/2026). 

“Selain kuliner, mereka juga menampilkan perform budaya. Ini menjadi sarana untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain,” katanya.

Ia mencontohkan, dalam festival ini terdapat peserta dari negara-negara yang sebelumnya memiliki konflik, namun dapat berinteraksi secara harmonis.

“Ada peserta dari Amerika dan Afganistan. Di sini mereka bisa bersama, dan harapannya ini bisa menjadi bagian dari upaya membangun perdamaian,” ujarnya.

Respon Positif

Rizal juga menyebut kegiatan ini mendapat dukungan dari berbagai kedutaan besar, sehingga membuka peluang jejaring internasional bagi para peserta.

“Banyak peserta mendapat dukungan dari kedutaan masing-masing. Ini juga menjadi kesempatan untuk memperluas jaringan,” katanya.

Tahun ini, jumlah pengunjung ditargetkan melampaui 2.500 orang, dengan animo yang datang dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Salah satu peserta, Rumeysa, mahasiswa asal Turki, mengaku antusias mengikuti festival ini untuk memperkenalkan budaya negaranya melalui kuliner.

“Hari ini kami mewakili Turki dengan tiga makanan, yaitu börek, sütlaç, dan şerbet,” ujarnya.

Ia menjelaskan, börek merupakan kudapan tradisional berisi daging cincang dan keju, sementara sütlaç adalah puding nasi khas Turki yang bercita rasa manis dan lembut.

Adapun şerbet merupakan minuman tradisional berbahan dasar buah atau rempah.

Meski membawa kuliner khas negaranya, Rumeysa mengaku tertarik untuk mencoba makanan dari negara lain.

“Semua makanan enak, tapi saya penasaran dengan makanan Pakistan,” katanya.

ICCF menjadi salah satu agenda internasional UMY yang tidak hanya memperkenalkan keragaman budaya, tetapi juga memperkuat jejaring global serta membangun pemahaman lintas bangsa melalui pendekatan yang lebih humanis.(*)
 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved