Festival ICCF UMY, Saat Kuliner dan Budaya Jadi Bahasa Universal Perdamaian

Kegiatan tahunan ini menjadi ajang pertemuan lintas budaya yang melibatkan mahasiswa internasional dari puluhan negara.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Santo Ari
KULINER - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menggelar 11th International Cultural and Culinary Festival (ICCF) 2026 di Gedung Sportorium, Rabu (29/4/2026). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar 11th International Cultural and Culinary Festival (ICCF) 2026 di Gedung Sportorium, Rabu (29/4/2026).

Kegiatan tahunan ini menjadi ajang pertemuan lintas budaya yang melibatkan mahasiswa internasional dari puluhan negara.

Tercatat sekitar 30 negara ambil bagian dalam festival ini, di antaranya Nigeria, Vietnam, Amerika, Polandia, Yaman, Uganda, Ghana, Filipina, Thailand, hingga Prancis.

Peserta tidak hanya berasal dari UMY, tetapi juga dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta dan sekitarnya.

Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan UMY, Slamet Riyadi, menyebut ICCF tahun ini menjadi yang ke-11 dan terus menunjukkan peningkatan partisipasi internasional.

“Event ini sudah ke-11 kali dan kita mengundang lebih banyak peserta. Ada sekitar 30 negara yang terlibat, dan ini menunjukkan atensi yang sangat tinggi dari mahasiswa internasional di Indonesia,” ujarnya.

Salah satu hal baru dalam penyelenggaraan tahun ini adalah pelibatan siswa SMA sebagai cultural agent.

Mereka bertugas mendampingi peserta dari berbagai negara di setiap stan budaya.

“Kita melibatkan siswa SMA sebagai cultural agent agar pemahaman budaya bisa ditanamkan sejak dini. Ini juga membuat acara lebih menarik bagi kalangan pelajar,” jelasnya.

Pendekatan Budaya dan Kuliner

Melalui pendekatan budaya dan kuliner, UMY ingin menghadirkan ruang interaksi yang lebih cair di tengah dinamika global yang tidak selalu stabil.

“Pendekatan budaya dan kuliner terbukti mampu mempererat hubungan. Kita ingin menyampaikan pesan bahwa kolaborasi dan saling memahami itu penting, baik di tingkat nasional maupun global,” kata Slamet.

Menurutnya, ICCF juga memberikan dampak besar terhadap penguatan reputasi internasional UMY.

Setiap tahunnya, minat mahasiswa asing untuk mendaftar ke kampus ini terus meningkat.

“Setiap tahun tidak kurang dari 10.000 mahasiswa asing mendaftar ke UMY. Ini menjadi salah satu dampak dari upaya kita membuka diri terhadap kolaborasi global,” ujarnya.

Baca juga: Dosen UMY Sebut Pengesahan UU PPRT Perkuat Pengakuan Hak Warga Negara, Tekankan Pengawasan

Budaya Lintas Negara

Sementara itu, Direktur Kemitraan Global dan Employability UMY, Rizal Yaya, menambahkan bahwa festival ini tidak hanya menampilkan kuliner khas, tetapi juga pertunjukan budaya dari masing-masing negara.

“Selain kuliner, mereka juga menampilkan perform budaya. Ini menjadi sarana untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain,” katanya.

Ia mencontohkan, dalam festival ini terdapat peserta dari negara-negara yang sebelumnya memiliki konflik, namun dapat berinteraksi secara harmonis.

“Ada peserta dari Amerika dan Afganistan. Di sini mereka bisa bersama, dan harapannya ini bisa menjadi bagian dari upaya membangun perdamaian,” ujarnya.

Respon Positif

Rizal juga menyebut kegiatan ini mendapat dukungan dari berbagai kedutaan besar, sehingga membuka peluang jejaring internasional bagi para peserta.

“Banyak peserta mendapat dukungan dari kedutaan masing-masing. Ini juga menjadi kesempatan untuk memperluas jaringan,” katanya.

Tahun ini, jumlah pengunjung ditargetkan melampaui 2.500 orang, dengan animo yang datang dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Salah satu peserta, Rumeysa, mahasiswa asal Turki, mengaku antusias mengikuti festival ini untuk memperkenalkan budaya negaranya melalui kuliner.

“Hari ini kami mewakili Turki dengan tiga makanan, yaitu börek, sütlaç, dan şerbet,” ujarnya.

Ia menjelaskan, börek merupakan kudapan tradisional berisi daging cincang dan keju, sementara sütlaç adalah puding nasi khas Turki yang bercita rasa manis dan lembut.

Adapun şerbet merupakan minuman tradisional berbahan dasar buah atau rempah.

Meski membawa kuliner khas negaranya, Rumeysa mengaku tertarik untuk mencoba makanan dari negara lain.

“Semua makanan enak, tapi saya penasaran dengan makanan Pakistan,” katanya.

ICCF menjadi salah satu agenda internasional UMY yang tidak hanya memperkenalkan keragaman budaya, tetapi juga memperkuat jejaring global serta membangun pemahaman lintas bangsa melalui pendekatan yang lebih humanis.(*)
 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved