Potensi Hadyu Mulai Digarap Melalui Keterlibatan Peternak Lokal

Hadyu adalah hewan ternak, seperti kambing atau sapi, yang disembelih oleh jemaah haji sebagai bentuk denda atau bagian dari pelaksanaan ibadah

Penulis: Santo Ari | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Direktur Utama PT Qeeta Group Indonesia, Taufik Surrahman, saat berkunjung ke peternak lokal DIY 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Transformasi ekonomi haji di Indonesia mulai bergeser dari sekadar layanan jemaah ke penguatan sektor hulu, salah satunya melalui penyediaan hadyu.

Hadyu adalah hewan ternak, seperti kambing atau sapi, yang disembelih oleh jemaah haji sebagai bentuk denda atau bagian dari pelaksanaan ibadah, terutama pada skema haji tamattu dan qiran.

Kebutuhan hadyu yang besar dan berulang setiap tahun menjadikannya memiliki nilai ekonomi signifikan, namun selama ini masih banyak dipenuhi dari luar negeri.

Melalui kontrak hadyu 1447 H, PT Qeeta Group Indonesia mulai mendorong keterlibatan peternak lokal dalam rantai pasok tersebut.

Program ini dijalankan dengan menggandeng peternak di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Magelang, sebagai bagian dari upaya membangun sistem produksi dalam negeri yang lebih terintegrasi dan sesuai standar global.

Direktur Utama PT Qeeta Group Indonesia, Taufik Surrahman, mengatakan bahwa persoalan utama selama ini terletak pada belum terhubungnya kapasitas peternak lokal dalam satu sistem produksi yang utuh. 

“Indonesia punya kapasitas besar, tetapi belum terhubung dalam satu sistem yang mampu memenuhi standar global,” ujarnya jumat (17/4/2026).

Dalam skema kontrak hadyu ini, peternak mendapatkan kepastian yang sebelumnya tidak dimiliki.

Mulai dari standar produksi, pola pemeliharaan, hingga akses pasar yang jelas.

Baca juga: Pemkab Kulon Progo Lepas 384 Calon Jemaah Haji 2026, Mayoritas Kelompok Usia Lanjut

Hewan ternak yang disiapkan harus memenuhi kriteria tertentu, baik dari sisi kesehatan, usia, bobot, hingga proses penyembelihan yang sesuai dengan ketentuan syariat dan standar internasional.

Untuk menjaga kualitas tersebut, Qeeta Group melibatkan sejumlah pihak dalam ekosistemnya.

Bio Natural Nusantara berperan dalam pendampingan teknis peternakan, UIN Sunan Kalijaga sebagai penyelia halal, BPOM dalam pengawasan keamanan pangan, serta rumah potong hewan dan dinas terkait untuk memastikan proses produksi hingga distribusi berjalan sesuai ketentuan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa hadyu tidak lagi dipandang sekadar sebagai ritual, tetapi sebagai bagian dari sistem industri yang membutuhkan standar tinggi dan koordinasi lintas sektor.

Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam memastikan kesiapan peternak menghadapi standar tersebut.

“Tantangan terbesar adalah memastikan seluruh ekosistem siap, bukan hanya membuka akses pasar,” kata Taufik.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved