STIKes Panti Rapih Yogyakarta Gelar 'Capping Day' dan Tekankan Integritas Profesi

Capping Day merupakan langkah awal krusial bagi mahasiswa Stike Panti Rapih Yogyakarta dalam memasuki dunia profesi.

Tribun Jogja/R.Hanif Suryo Nugroho
CAPPING DAY - Sebanyak 73 mahasiswa keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Panti Rapih Yogyakarta berdiri khidmat di atas panggung sambil memegang lilin menyala dalam prosesi Capping Day dan Upacara Ucap Janji, di Yogyakarta, Jumat (27/3/2026). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebanyak 73 mahasiswa keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Panti Rapih Yogyakarta mengikuti prosesi Capping Day dan Upacara Ucap Janji Mahasiswa Keperawatan, di Yogyakarta, Jumat (27/3/2026).

Ritual akademik ini menjadi tonggak awal sekaligus penanda kesiapan para calon perawat sebelum terjun langsung memberikan pelayanan di berbagai fasilitas layanan kesehatan, klinik, maupun rumah sakit.

Prosesi sakral tersebut diikuti oleh 33 mahasiswa program Diploma Tiga (D-3) Keperawatan semester dua dan 40 mahasiswa Sarjana Keperawatan yang akan memasuki tahap profesi Ners.

Dalam kegiatan yang mengusung tema ”Melayani dengan Kasih dalam Semangat I-CARE” ini, seluruh mahasiswa mengenakan seragam perawat putih dan mengucapkan janji profesi.

Secara simbolis, mahasiswa perempuan juga menerima pemasangan kap sebagai tanda kesiapan memikul tanggung jawab pelayanan.

Pemasangan kap tersebut melibatkan perwakilan praktisi dari sejumlah rumah sakit mitra, antara lain RS Panti Rapih, RS Panti Rini, RS Panti Nugroho, RS Santa Elisabeth, RS Panti Rahayu, serta perwakilan Suster Carolus Borromeus (CB). 

Kehadiran tenaga profesional ini merupakan bentuk sinergi antara dunia pendidikan dan layanan kesehatan untuk mencetak perawat yang kompeten dan humanis.

Langkah Awal

Ketua STIKes Panti Rapih Yulia Wardani menuturkan, Capping Day merupakan langkah awal krusial bagi mahasiswa dalam memasuki dunia profesi.

Ia mengajak para mahasiswa untuk meneladani tokoh keperawatan modern, Florence Nightingale. 

Sosok yang dijuluki Lady of the Lamp pada era Perang Krimea tersebut menjadi pengingat bahwa seorang perawat harus mampu menjadi simbol harapan dan cahaya kehidupan bagi pasien.

Dalam arahannya, Yulia memberikan penekanan pada keselarasan antara ilmu, pembangunan karakter, serta inovasi pembelajaran yang tengah didorong oleh institusi untuk menunjang kompetensi lulusan di lapangan.

"STIKes Panti Rapih terus melakukan inovasi melalui evaluasi kurikulum. Sejak tahun 2023, kurikulum telah dikonversi agar mahasiswa mendapatkan pengalaman praktik yang lebih nyata. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menjadikan Kampus 1 sebagai mini hospital, sehingga mahasiswa dapat membangun budaya kerja dan perilaku profesional layaknya di rumah sakit sejak dini," ujar Yulia.

Baca juga: Rencana WFH ASN Setiap Jumat, Pemkot Yogyakarta Buka Opsi Tambah Jam Kerja di Hari Biasa

Terapkan Ilmu Selama Pendidikan

Lebih lanjut, Yulia menegaskan bahwa masa pendidikan sarjana selama empat tahun harus dimanfaatkan secara optimal untuk membangun fondasi.

Ia menyoroti secara tajam aspek integritas yang mutlak harus dijaga, sekaligus memperingatkan mahasiswa untuk menjauhi segala bentuk ketidakjujuran akademik.

"Integritas adalah nilai yang akan terus diuji sepanjang kehidupan dan harus tercermin dalam keselarasan antara nilai yang diyakini dan tindakan nyata. Terdapat lima nilai utama yang harus dimiliki oleh setiap perawat, yaitu Integrity, Discipline, Agile, Dedication, dan Initiative. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam menghadapi tantangan profesi yang menuntut kesiapan, ketangguhan, serta pengabdian tanpa mengenal waktu," tegasnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved