Hadapi El-Nino Saat Kemarau, Bupati Kulon Progo Pastikan Sektor Pertanian Tetap Aman
Fenomena El-Nino diperkirakan akan terjadi mulai April 2026, saat wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Hari Susmayanti
Ringkasan Berita:
- Fenomena "Godzilla El Nino" diprediksi melanda mulai April 2026, mengancam sektor pertanian dengan kekeringan ekstrem dan potensi krisis air bersih di wilayah Kulon Progo
- Bupati Agung Setyawan mengimbau petani menggunakan benih tahan cuaca dan teknik jaga kelembapan tanah didukung sistem pompa air untuk menjaga stabilitas pangan
- Stok air baku diklaim aman untuk zona selatan via PDAM/Pamsimas, namun pemerintah tetap menyiapkan skema dropping air bersih khusus untuk wilayah zona utara yang rawan
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Fenomena El-Nino diperkirakan akan terjadi mulai April 2026, saat wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau.
Fenomena ini berpotensi menyebabkan kekeringan yang ekstrem hingga kemarau panjang dengan suhu udara cukup tinggi.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan mengatakan fenomena yang disebut sebagai "Godzilla El-Nino" ini bisa mengancam sektor pertanian hingga krisis air bersih.
"Fenomena ini harus disikapi secara bijak karena akan berdampak secara luas," kata Agung pada Kamis (26/03/2026).
Ia mengatakan sektor pertanian akan menjadi yang paling berdampak saat El-Nino menyerang. Sebab debit air untuk irigasi akan berkurang sehingga membuat pengairan sawah menjadi tidak optimal.
Akibatnya, produktivitas tanaman pangan hingga kesejahteraan petani bisa turun. Namun Agung mengatakan tetap ada langkah antisipasi yang bisa dilakukan demi menekan potensi gagal panen di musim kemarau ini.
"Seperti menanam benih tanaman pangan yang lebih tahan terhadap cuaca," ujarnya.
Baca juga: Rencana Efisiensi MBG Jadi 5 Hari, Wali Murid di Sleman: Lebih Baik Dihentikan Saja
Selain itu, Agung turut mengimbau para petani untuk menjaga kelembaban tanah agar tetap stabil saat masa tanam di musim kemarau.
Seperti penggunaan jerami untuk menutupi lahan sawah sehingga air tidak cepat menyusut.
Sedangkan untuk krisis air, ia meyakini air baku Kulon Progo masih mencukupi.
Terutama untuk zona selatan yang memanfaatkan pipa PDAM dan Pamsimas sehingga kebutuhan air bersih masyarakat tetap bisa terpenuhi saat musim kemarau.
"Kecuali zona utara yang memang membutuhkan dropping air bersih karena kondisi geografisnya," jelas Agung.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulon Progo, Trenggono Trimulyo memastikan bahwa pola tanam di wilayahnya tidak terganggu dengan El Nino. Polanya tetap berupa 2 kali musim tanam padi dan 1 kali palawija.
Namun pihaknya harus melakukan mitigasi untuk irigasi lahan pangan. Seperti memastikan pasokan air tetap aman dengan sistem perpompaan.
"Kami juga selalu koordinasi dengan para penyuluh, petani, hingga dinas terkait sebagai antisipasi," kata Trenggono.
Baca juga: Kisah Pria Asal Bantul Melawan Keterbatasan Ekonomi, Sukses Kuliah di UGM hingga S3 di Belanda
Mengenal El Nino
| Menaker Imbau WFH 1 Hari dalam Seminggu, Buruh DIY Ajukan 6 Usulan Ini |
|
|---|
| Kejar Target Tahun Ajaran Baru, Satker Tambah Personel Percepat Proyek Sekolah Rakyat di Gulurejo |
|
|---|
| Soal MBG Difokuskan untuk Anak Kurang Gizi, Orang Tua Siswa di Kota Yogyakarta Setuju |
|
|---|
| Pemkab Kulon Progo Kirimkan 24 Kafilah ke MTQ Tingkat DIY 2026 |
|
|---|
| 12 Tahun Menanti, Jemaah Sleman Ini Lepas Pelukan Buah Hati demi Ibadah Haji ke Tanah Suci |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Hadapi-El-Nino-Saat-Kemarau-Bupati-Kulon-Progo-Pastikan-Sektor-Pertanian-Tetap-Aman.jpg)