Kisah Pria Asal Bantul Melawan Keterbatasan Ekonomi, Sukses Kuliah di UGM hingga S3 di Belanda

Keterbatasan ekonomi bukan alasan bagi siapa pun yang ingin mengubah keadaan dan mengejar masa depan

Penulis: Ihwan Kcm | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/DOKUMENTASI UNTUK TRIBUN JOGJA
KISAH SUKSES - Rif'an lelaki asal Pleret Bantul saat berfoto di depan Universitas Arizona Amerika Serikat. 

Ringkasan Berita:
  • Masalah konomi bukan alasan bagi siapa pun yang ingin mengubah keadaan untuk mengejar masa depan yang lebih gemilang. 
  • Ini yang dialami oleh Ahmad Rif’an Khoirul Lisan, sosok pria asal Pleret Bantul, yang selalu bersemangat menempuh study S3 hingga ke Belanda.
  • Pria berusia 32 tahun ini mengenang saat diterima kuliah di fakultas Geografi UGM tahun 2012 silam. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keterbatasan ekonomi bukan alasan bagi siapa pun yang ingin mengubah keadaan untuk mengejar masa depan yang lebih gemilang. 

Hal ini yang dialami oleh Ahmad Rif’an Khoirul Lisan, sosok pria asal Pleret Bantul, yang selalu bersemangat menempuh study S3 hingga ke Belanda.

Lelaki berusia 32 tahun ini mengenang saat diterima kuliah di fakultas Geografi UGM tahun 2012 silam. 

Orang pertama yang menentang keputusannya untuk kuliah justru berasal dari ayahnya sendiri.


Alasannya sederhana sekaligus berat, keluarga mereka tidak memiliki cukup biaya, sementara enam adiknya masih kecil membutuhkan perhatian dan penghidupan.

Sementara Ayahnya hanya bekerja sebagai guru mengaji panggilan dan ibunya yang bekerja sebagai  ibu rumah tangga, merasa tidak mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya. 

Bahkan keduanya selalu meminta anak-anaknya untuk segera bekerja selepas menamatkan sekolah di jenjang menengah atas.

Permintaan sang Ayah justru tidak mengendorkan semangat anak sulungnya untuk mengejar mimpi. 

Bagi Rif’an, melanjutkan pendidikan bukan sekadar mimpi pribadi. Dia ingin mengubah kondisi keluarganya dan membantu adik-adiknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.



Apalagi sejak dari bangku sekolah hingga kuliah Rif'an sudah terbiasa mencari kerja sampingan. 

Dia mafhum dengan keterbatasan keluarganya, sehingga ia tidak terlalu berharap banyak. 

Beruntung, Rif’an adalah siswa berprestasi yang banyak menyabet berbagai kejuaraan di tingkat Nasional. 

Penolakan dari keluarganya juga tidak berhenti sampai di situ. Dalam beberapa waktu, Rif’an bahkan merasa seolah kehilangan dukungan dari keluarganya sendiri karena keputusannya untuk tetap menempuh pendidikan di bangku kuliah

Bertahan Hidup sebagai Mahasiswa

Hari-hari awal kuliah di Fakultas Geografi UGM pada tahun 2012, bukanlah masa yang mudah bagi Rif’an. Tanpa dukungan finansial yang cukup dari keluarga, ia harus mencari cara agar tetap bisa bertahan hidup sebagai mahasiswa. Beruntunglah ia mendapatkan beasiswa Bidikmisi yang dapat membantunya menyokong kehidupan sehari-harinya hingga lulus kuliah.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved