Pangkas Ketergantungan Impor, UGM dan Petani di DIY Gagas Pertanian Kedelai Berbasis Digital

UGM menginisiasi gerakan penanaman massal bertajuk "Bangkit Kedelai Yogyakarta" dengan melibatkan lebih dari 2.500 petani di DIY

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Acara peluncuran gerakan "Bangkit Kedelai Yogyakarta" di Dusun Gamparan, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta. Melalui inovasi Smart Agro Enterprise Kedelai (Saekedelai) yang digagas oleh Fakultas Teknologi Pertanian UGM ini, lebih dari 2.500 petani dilibatkan untuk menerapkan teknologi smart farming di lahan seluas lebih dari 300 hektare. Penerapan teknologi tersebut, salah satunya melalui perangkat stasiun cuaca mini (monitoring field system), ditargetkan mampu menggenjot produktivitas kedelai lokal dari 1,8 ton per hektare menjadi 4 ton per hektare guna memangkas ketergantungan impor nasional. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ketimpangan antara tingginya kebutuhan kedelai nasional dan minimnya produksi dalam negeri terus menjadi tantangan utama dalam mewujudkan ketahanan pangan.

Menjawab persoalan tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) menginisiasi gerakan penanaman massal bertajuk "Bangkit Kedelai Yogyakarta" dengan melibatkan lebih dari 2.500 petani di Daerah Istimewa Yogyakarta melalui penerapan teknologi smart farming.

Berdasarkan data terkini, kebutuhan kedelai nasional terus merangkak naik mencapai 2,67 juta hingga 2,76 juta ton per tahun seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk produksi tahu dan tempe.

Kontras dengan hal tersebut, angka produksi kedelai nasional pada tahun 2024 tercatat tidak lebih dari 280.000 ton.

Merespons krisis pasokan ini, Tim Peneliti Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM menggulirkan inovasi teknologi pertanian cerdas Smart Agro Enterprise Kedelai (Saekedelai).

Gerakan ini telah dimulai secara serentak pada Minggu (24/5/2026) di Dusun Gamparan, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.

Ketua Pelaksana Program Saekedelai dari FTP UGM, Dr. Atris Suyantohadi, menyampaikan bahwa program ini menargetkan pengurangan ketergantungan pada kedelai impor melalui penguatan kapasitas produksi domestik.

"Produksi kedelai dalam negeri belum mencukupi terhadap kenaikan kebutuhan bahan baku kedelai, terutama untuk para pengrajin tahu dan tempe di Indonesia. Ini karena banyak faktor yang saya lihat memang produktivitas petani masih terbilang sangat rendah," jelas Atris, Sabtu (30/5/2026).

Untuk mendongkrak produktivitas, Saekedelai dikembangkan sebagai platform teknologi pertanian yang terintegrasi secara hulu-hilir di lahan seluas lebih dari 300 hektare.

Inovasi ini mencakup sistem pemantauan iklim dan cuaca lahan (monitoring field system), penelusuran hasil panen menggunakan sistem barcode (traceability), hingga optimalisasi Sistem Resi Gudang.

Melalui kolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DIY, pemerintah daerah, produsen benih, dan pihak industri, penggunaan teknologi ini ditargetkan mampu meningkatkan produktivitas kedelai di wilayah DIY dari rekor tertinggi saat ini di angka 1,8 ton per hektare menjadi 2,5 ton hingga 4 ton per hektare.

"Dengan teknologi ini, dari hulu ke hilirisasi kedelai mulai kami kembangkan secara terstruktur, berkesinambungan, dan hampir menyeluruh menerapkan teknologi. Mulai dari persiapan penanaman, monitoring dengan monitoring field system, sampai traceability melalui sistem barcode dari petani hingga ke industri," papar Atris secara rinci mengenai cara kerja sistem tersebut.

Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi secara menyeluruh dan berkelanjutan ini diharapkan tidak hanya memecahkan masalah kedaulatan pangan, tetapi juga menghasilkan benih unggul bagi sektor pertanian di masa depan.

"Program ini melibatkan sekitar 2.500 petani. Harapannya, tahu dan tempe yang kita konsumsi ke depan tidak lagi bergantung pada kedelai impor, tapi juga berasal dari produksi dalam negeri," tegasnya.

Di sisi lain, perbaikan mutu dan kepastian panen dari program smart farming ini rupanya mulai menarik perhatian pasar mancanegara yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani lokal.

"Beberapa pembeli dari luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura, juga telah menemui kami. Apabila produksi kedelai yang memenuhi standar mutu dan produktivitas dapat ditingkatkan secara signifikan," tutup Atris. (*)

 

Sumber: Tribun Jogja
Tags
kedelai
UGM
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved